
Merubah diri dengan berbagai bentuk yang berbeda/berada diberbagai tempat dalam waktu yang sama.
Umar bin Khatab r.a. mengangkat Sariyah bin Zanim al Khalji sebagai pemimpin salah satu angkatan perang kaum muslimin untuk menyerang Persia. Digerbang Nihawan, Sariyah dan pasukannya terdesak karena jumlah musuh yang sangat banyak, sehingga pasukan muslim hampir kalah. Sementara Umar saat itu di Madinah sedang naik mimbar dan berkhutbah. Ditengah-tengah khutbahnya, Umar berseru dengan suara lantang, “Hai Sariyah, berlindunglah kegunung. Barang siapa menyuruh untuk serigala menggembala kambing, maka ia telah berlaku zalim!”. Allah membuat sariyah dan pasukannya yang ada digerbang Nihawan dapat mendengar suara Umar di Madinah. Maka pasukan muslim berlindung kegunung dan berkata, “Itu suara Khalifah Umar”. Akhirnya mereka selamat dan memperoleh kemenangan. Tetapi dalam cerita Sariyah dan pasukannya, mereka benar-benar melihat Umar bersama mereka dan berbicara pada mereka.
Seperti cerita Qodlib Al Ban Al Mushili yang merupakan salah satu wali abdal, bahwa sebagian orang yang telah salah mengira, yang tidak melihatnya sholat dengan meninggalkan sholat dan sangat mengingkarinya. Ia kemudian berubah menjadi beberapa bentuk dan berkata “Dalam bentuk yang mana kau melihatku melakukan sholat?”.
Sayyid Ahmad al Badawi, seringkali tidak terlihat menjalankan sholat, bahkan ada yang sama sekali tidak pernah melihat beliau menjalankan sholat. Lalu datang Syeikh Daqiqil mendatangi beliau dan bertanya, “Kamu kelihatannya tidak pernah sholat syeikh, begitu itu bukan perjalanannya para sholihin”. Sayid Ahmad berkata, “Diam. Awas kalau tak mau diam aku hamburkan daqiqmu!”. Syeikh Daqiq kemudian ditendang dan tahu-tahu telah berada disuatu pulau yang luas sekali dalam keadaan pingsan tak berdaya. Untungnya beliau kemudian didatangi Nabi Khidhir. Nabi Khiddir berkata, “Ya sudah tidak apa-apa, tetapi orang semacam al Badawi itu jangan kamu mencoba mengganggunya lagi. Sekarang pergilah kamu ke kubah yang kelihatan itu, nanti kalau sudah sampai disana berhentilah kamu dipintunya. Nanti bila sudah masuk waktu ashar Ahmad al Badawi akan datang kesitu dan berjama’ah dengan banyak orang. Setelah dia selesai peganglah lengan bajunya dan mintalah maaf, mungkin dia mau memaafkanmu”. Syeikh Daqiqil kemudian mengikuti saran Nabi Khidir. Setelah bertemu Syeikh Badawi dan meminta maaf, beliau kembali ditendang, dan tahu-tahu telah berada didepan pintu rumahnya sendiri.
Syeikh Dzun Nun al Misri pernah suatu kali dalam keadaan hadast besar beliau pergi kesungai Nil untuk mandi. Beliau kemudian terjun dan menyelam. Tetapi didalam air beliau seperti bermimpi merasa berada dinegeri Baghdad kawin dengan seorang istri dan berumah tangga sampai enam tahun lamanya dan dikaruniai banyak anak. Beliau kemudian keluar dari air lalu pulang kerumah dan menceritakan pada istrinya apa yang dialaminya. Setelah berjarak beberapa bulan, perempuan Baghdad mencari syeikh Dzun Nun dan mengaku sebagai istrinya. Mengaku bahwa sejak enam tahun yang lalu mereka kawin dan anak-anak yang bersamanya adalah anak Dzun Nun. Jadi ini hanya bayangan impian tetapi menjadi kenyataan.
Syeikh Abul Abbas al Mursyi pernah mendapat lima undangan walimah pada hari Jum’at dengan waktu yang sama yaitu sesudah sholat Jum’at. Sesudah sholat Jum’at Syeikh masih tetap meneruskan kegiatan pengajian bersama para muridnya dan tidak terlihat mendatangi undangan sama sekali. Setelah beberapa saat kelima orang yang mengundang itu menghadap Syeikh dan berterimakasih telah dikunjungi.
Syeikh Bahaudin an Naqsyabandi pernah berkembang bentuknya sehingga memenuhi kamar kholwatnya kemudian sedikit demi sedikit mengecil lagi hingga kembali pada bentuk semula. Setelah banyak orang tahu Syeikh kemudian menutup jendela yang dekat dengan kamarnya.
Sesuatu yang menakjubkan pada banyak ulama berupa kemampuan membuat banyak sekali karangan dalam waktu yang singkat, sehingga bila dibandingkan atau dibagi antara jumlah karangan dan masa kesibukannya dengan ilmu sampai mati, maka tidak akan menemukan satu naskahpun, apalagi karangan.
Telah disepakati bila umur Imam Syafi’i tak akan memenuhi 1/10 dari apa yang telah diperlihatkan pada karangannya bersama dengan kesibukannya menghatamkan Al Qur’an setiap hari dengan merenungi maknanya dan setiap ramadhan dua khataman, kesibukannya mengajar dan menjawab pertanyaan yang diajukan (fatwa), dzikir, berfikir dan sakit parah berulang-ulang yang bila dihitung 30x sakit. Diantara sakit beliau ambeien. Bahkan beliau selalu melarang pembantu perempuannya karena beliau selalu punya penyakit yang parah.
Imam Muhyidin An Nawawi, beliau umurnya hanya 45 tahun, kalau dibagi dengan banyaknya kitab karangannya, maka untuk menulisnya saja maka tidak cukup waktunya. Bahkan alat tulis beliau bisa berjalan sendiri.
Tidak berpengaruhnya racun dan lain-lain yang merusak pada dirinya.
Abu Muslim r.a. ketika berhadapan dengan Aswad bin Qais bin Dzul al Khamar yang mengaku sebagai seorang nabi Yaman, bersikukuh tidak mau mengakui Aswad. Setelah berulang-ulang ditanya dan dipaksa Abu Muslim tetap tidak mau mengakui, akhirnya Aswad menyuruh orang-orangnya menyalakan api yang sangat besar. Setelah siap Abu Muslim kemudian dilemparkan dalam api tersebut. Tetapi Abu Muslim tidak mengalami apa-apa. Akhirnya Abu Muslim diusir dari Yaman dan berangkat ke Madinah yang saat itu pimpinan dipegang oleh Abu Bakar r.a.
Khalid bin Walid pernah memasuki sebuah kampung. Orang-orang kampung menyuruh Abdul Masih menyambut Khalid dengan membawa minuman yang mengandung racun ganas. Khalid berkata pada Abdul Masih berikan minuman itu. Ketika istirahat Kholid mengambil minuman itu dan berdo’a. setelah itu Khalid meminum minuman itu. Abdul Masih kemudian kembali pada kaumnya dan berkata, “Hai kaumku ia telah minum racun ganas itu, tetapi ia tidak apa-apa”. Akhirnya kaum itu berdamai dengan orang-orang muslim. Khalid juga pernah merubah arak menjadi madu. Dalam versi yang lain Khalid merubah arak menjadi cuka sehingga tak lagi memabukkan.
Mampu melihat alam malakut (alam spiritual malaikat)
Abdurahman bin Auf pernah mengalami pingsan yang sangat lama sehingga orang-orang menyangkanya ia telah meninggal. Ketika sadar ia berkata pada orang-orang yang menungguinya, “Kalian benar. Tadi ada dua malaikat datang kepadaku. Mereka berkata, “Pergilah. Kami akan meminta keputusanmu kapada Allah Yang Mahamulia lagi Maha benar. Malaikat yang lain berkata, “Kembalikan saja orang ini karena ia termasuk orang-orang yang ditentukan bahagia sejak berada diperut ibu mereka, dan putra-putranya kan menikmati sesuai kehendak Allah”. Setelah bertahan hidup selama sebulan, akhirnya Abdurrahman bin Auf meninggal dunia.
Mampu melihat alam mala’ul a’la (alam spiritual penghuni ketinggian)
Ibnu Arabi, dikenal memiliki kemampuan yang luar biasa untuk berhubungan dengan penghuni ketinggian, baik rohnya para nabi atau para wali yang dikehendakinya. Dalam hal ini Ibnu Arabi memakai tiga cara. Terkadang ruh itu yang diturunkan kedunia yang kemudian menjelma menjadi jasad lalu Ibnu Arabi menemuinya, terkadang Ibnu Arabi mendatangkannya dalam alam mimpi dan terkadang Ibnu Arabi sendiri yang merubah jasadnya untuk bisa bertemu dengan mereka, siapa saja yang dikehendaki.
Syeikh Muhamad bin Sulaiman al Jazuliy r.a. suatu ketika sudah masuk waktu sholat, tetapi tidak menemukan alat untuk mengeluarkan air dari sumur untuk wudhu’. Tiba-tiba ada seorang perempuan muda datang dengan melayang dari langit berkata, “Siapa kamu? Kamu ini orang baik-baik kenapa kebingungan tidak ada air?”. Perempuan muda itu kedian meludah kesumur dan sumur itu memancarkan airnya sampai keatas. Setelah berwudhu’ syeikh kemudian bertanya, “Apa yang menjadi sebab kamu bisa mencapai derajat ini?”. “Karena aku selalu memperbanyak membaca sholawat Nabi Saw”, jawab perempuan itu. Syeikh kemudian bersumpah akan mengarang kitab sholawat (kitabnya ini adalah Dalailul Khoirot).
Syeikh Ahmad as Soyyad pernah melihat semua pintu langit terbuka dan sekelompok malaikat turun kebumi dengan membawa pakaian berwarna hijau serta kendaraan. Mereka semua berhenti disebuah kuburan lalu mengeluarkan seseorang dari kuburan tersebut, memakaikan pakaian dan menaikkannya kekendaraan. Mereka kemudian naik melewati beberapa langit sampai semua terlewati dan terus naik sampai beberapa hijab terlewati. Beliau sangat heran dan dalam hati ingin bertanya siapakah orang tersebut. Tiba-tiba ada suara tanpa rupa berkata, “Itu Al Ghazali”.
Mampu melihat nabi Khidhir dan para wali abdal.
Syeikh Muhamad al Hanafi, dalam majelisnya sering didatangi Nabi Khidir dengan duduk disamping kanan syeikh. Kalau syeikh itu berdiri, juga ikut berdiri, kalau syekh masuk kamar kholwatnya, nabi Khidir mengantarkannya samapi depan pintu.
Syeikh Ibnu Daqiqil pernah berbuat kesalahan pada Sayyid Ahmad al Badawi, Syeikh Daqiq kemudian ditendang dan tahu-tahu telah berada disuatu pulau yang luas sekali dalam keadaan pingsan tak berdaya. Untungnya beliau kemudian didatangi Nabi Khidhir. Nabi Khiddir berkata, “Ya sudah tidak apa-apa, tetapi orang semacam al Badawi itu jangan kamu mencoba mengganggunya lagi. Sekarang pergilah kamu ke kubah yang kelihatan itu, nanti kalau sudah sampai disana berhentilah kamu dipintunya. Nanti bila sudah masuk waktu ashar Ahmad al Badawi akan datang kesitu dan berjama’ah dengan banyak orang. Setelah dia selesai peganglah lengan bajunya dan mintalah maaf, mungkin dia mau memaafkanmu”. Syeikh Daqiqil kemudian mengikuti saran Nabi Khidir. Setelah bertemu Syeikh Badawi dan meminta maaf, beliau kembali ditendang, dan tahu-tahu telah berada didepan pintu rumahnya sendiri.
Minum air yang pahit, asin, menjadi terasa manis dan menyegarkan (tawar).
Sayyid Muhyidin berkata, “Aku meminum air dari tangan Abu muhammad Abdullah ibn Ustazd al Maruzi al Haj yang merupakan salah satu murid istimewa Syeikh Abu Madyan ra, dimana Abu Madyan menyebutnya haji mabrur. Penegasan dari kisah ini adalah, bahwa orang yang telah nyata dalam makam ini dari makanan halal, bisa dari bekerja, menjaga tauhid. Para masyayikh berkata. Orang arif (Abu Madyan) adalah orang yang tidak bisa mematikan nur makrifatnya pada nur wira’inya. Apabila menemukan barang yang halal, ia hanya memanfaatkannya sedikit sekali. Maka apabila telah nyata yang demikian itu maka tumbuh dalam bathinnya keinginan untuk banyak berbuat sesuai dngan aturan hukum yang Allah telah menempatkan semua itu dalam diri hamba tersebut sebagai karomahnya, dan sebagai bukti tingkatannya dan kebenarannya. Dari keinginan inilah keluar berbagai karomah sebagaimana tersebut diatas dan berbagai karomah yang sama sekali tidak terbersit dalam diri seorang hamba.
Membelah/mengeringkan lautan air, dan berjalan diatas air.
Sa’ad bin Abi Waqosh r.a ketika dalam peperangan di Persia sampai disungai Trigis, mencari perahu untuk menyeberang tetapi tidak ada. Sa’ad bersama pasukannya kemudian tinggal beberapa hari dibulan Safar ditepi sungai itu. Tiba-tiba air sungai meluap dan Sa’ad bermimpi melihat sekawanan kuda kaum muslimin menceburkan diri kesungai. Sa’ad kemudian memerintahkan pasukannya untuk menyeberang terlebih dahulu. Mereka semua menceburkan diri kesungai, menyeberangai air yang sedang pasang dan terombang-ambing ombak. Tetapi mereka semua terapung disungai itu sambil berbincang-bincang dan berpasangan (dua-dua) sebagaimana perjalanan didarat. Dan bekal pasukanpun tak ada yang hilang sama sekali kecuali sebuah gelas yang pegangannya telah rusak. Tetapi air membawa gelas itu ketepian dan diambil oleh pemiliknya kembali. Saat itu Salman Al Farisi adalah orang yang menemani Sa’ad saat berjalan diatas air. Pasukan persia merasa heran menyaksikan hal itu. Dan pasukan muslim akhirnya bisa mengalahkan pasukan Persia.
Abu Muslim al Khaulani (seorang Tabi’in) pernah berada dalam pasukan muslim. Namun ditengah perjalanan mereka terhalang sebuah sungai yang sangat derasnya. Lalu pasukan tersebut berkeinginan untuk istirahat menunggu airnya surut. Mereka bertanya pada penduduk desa dimanakah bisa mendapatkan susu. Ternyata susu itu berada dua mil dari tempat itu. Abu Muslim kemudian berdo’a, “Ya Allah sesungguhnya engkaulah yang telah menyelamatkan Bani Israil di lautan. Kami adalah hamba-hamba Mu. Tolong sekarang selamatkanlah kami menyeberangi sungai”. Abu Muslim kemudian memerintahkan teman-temannya menyeberang. Ternyata tidak ada sepercik airpun yang mampu menyentuh kuda-kuda pasukan itu. Abu Muslim bertanya, “Apa ada barang kalian yang jatuh, siapa saja yang merasa kehilangan sesuatu aku yang menanggungnya?”.
Syeikh Abu Muslim juga pernah melewati sungai Trigis. Disitu ada jembatan penyeberangan darurat yang terbuat dari kayu. Tetapi Abu Muslim justru mengajak jalan diatas air dan mengajak sahabat-sahabatnya. Syeikh Baha’udin an Naqsyabandiy seringkali mengunjungi para wali yang bertempat dilaut. Beliau masuk kelaut dengan tetap mengenakan pakaiannya sampai beberapa lama, kemudian keluar dengan pakaian yang tanpa basah sama sekali.
Melipat jarak bumi (menempuh jarak bumi dalam sekejap).
Syeikh Jalaluddin Abdurrahaman as Suyuthiy r.a. suatu hari berkata pada santrinya, “Mari sekarang kau kuajak ke Makkah, aku ingin sembahyang ashar disana dengan syarat kau jangan bilang siapa-siapa tentang hal ini sampai aku mati”. Santrinya itu menyanggupinya. Syeikh kemudian memegang tangan santrinya dan berkata, “Pejamkan matamu”. Keduanya kemudian berjalan setengah berlari 27 langkah, syeikh kemudian berkata, “Sudah, sekarang bukalah matamu”. Santri itu membuka matanya dan sudah berada di makam Al Ma’la Makkah. Kemudian keduanya ziarah makam Siti Khadijah, wali Fudhail bin Iyadh, syeikh Sufyan bin Uyainah dll, kemudian menuju Masjidil Haram, mengerjakan thowaf, minum air zamzam lalu duduk dibelakang makom Ibrahim untuk menjalankan sholat ashar, terus dilanjutkan dengan thowaf dan minum air zamzam lagi. Syeikh berkata, “Hai kawan, kita tidak perlu heran bisa melipat perjalanan dibumi, yang saya heran orang-orang Mesir tetangga kita disana tidak ada yang tahu. Terus sekarang kamu mau ikut saya, apa mau tinggal disini?. Santri itu memilih ikut syeikh. Beliau kemudian berkata, “Pejamkan matamu”. Kemudian keduanya berjalan cepat 7 langkah, kemudian beliau berkata, “Buka matamu”. Keduanya telah berada di Mesir, lalu ziarah makam Umar bin Faridh. Setelah itu keduanya lalu berpisah, beliau mengendarai himar dan santri itu berjalan kaki kerumahnya.
Salah satu murid Syeikh Ibnu atho’illah As Sakandari pernah berangkat haji. Ditempat thowaf dekat makam Ibrahim, ditempat sa’i dan di Arafah selalu melihat Syeikh Ibnu Atho’ilah. Setelah pulang dirumah ditanyakan pada orang banyak, jawabnya syeikh tidak berangkat haji. Kemudian ia menghadap Syeikh. Begitu bertemu syeikh langsung bertanya, “Kamu bertemu dengan siapa?”. “Saya bertemu Syeikh”, jawabnya. Syeikh hanya tertawa kecil dan berkata, “Orang besar itu ada dimana-mana. Wali qutub itu jika berdo’a dari dalam kamarnya pasti dikabulkan”.
Syeikh Umar ibn Al Faridh, pernah tinggal disebuah lembah selama lima belas tahun. Jarak antara lembah tersebut dengan Makkah, adalah sepuluh hari dengan berjalan kaki. Tetapi beliau mampu mengikuti sholat berjama’ah lima waktu dimasjid Makkah setiap harinya.
Berjalan diudara/terbang
Syeikh Tajudin, salah satu santri Syeikh Baha’udin an Naqsyabandi sering diperintah untuk pergi ke Bukhara dari Qosrul Arifan yang berjarak satu pos (kurang lebih 80 mil). Syeikh Tajudin tidak membutuhkan waktu yang lama sudah bisa pulang kembali karena bila teman-temannya sudah tidak melihatnya ia lalu terbang keudara. Tetapi suatu kali ketika sedang terbang Syeikh Tajudin bertemu dangan Syeikh Baha’udin diudara. Begitu Syeikh tahu akan kebiasaan Syeikh Tajudin setiap diperintah, Syeikh Baha’udin lalu mencabut kelebihan Syeikh Tajuddin santrinya itu.
Ibnu Arabi pernah berjalan diudara, dia kemudian ditanya, “Dengan cara apa kamu memperoleh karamah ini?”. Ia menjawab, “Kutinggalkan nafsuku untuk melaksanakan keinginan-Nya, sehingga Allah menundukkan udara untukku”.
Pemberitaan hal-hal yang ghaib dan kasyaf. Memberikan berita dengan sesuatu yang masih ghaib, dan kejadian sebelum terjadinya peristiwa dalam kenyataannya.
Syeikh Bahaudin an Naqsyabandi pernah membuat bubur untuk untuk selamatan kelahiran Syeikh Yaqut al Arsiy dinegara Habasyah (Etiopia). Dan mengatakan bahwa anak itu nanti akan datang untuk mondok pada Syeikh. Sekian tahun kemudian anak itu benar-benar datang. Dan ketika ditanya semua sesuai dengan perkataan syeikh dimasa lalu.
Syekh Abu Madyan, pernah ada lelaki yang bergerak dalam majlisnya, kemudian ia memerintahkan untuk mengeluarkan lelaki itu. Ia berkata “Kalian akan melihat keadaannya setelah kejadian ini dalam setahun”. Dan sebagian orang yang hadir meminta penjelasan. Ia berkata, “Ia akan menganggap dirinya sebagai imam mahdi”. Dua puluh tahun kemudian, lelaki itu menjadi seperti apa yang dikatakan Abu Madyan. Ini adalah bagian dari ilham laduniyah.
Ditulis oleh; MN Ibad-disarikan dari beberapa sumber
Komentar Terbaru