Tulungagung, Minggu, 17 Mei 2026

Mengisi kajian rutin Aswaja dalam forum silaturrohim Nahdliyin PCNU Tulungagung, Ahad Wage 17 Mei 2026 yang bertempat di Masjid Pelem Botoran Tulungagung, Rois Syuriah PCNU Tulungagung (KH. Muhson Hamdani, M.Pd) menyampaikan adanya tantangan berkhidmah dalam organisasi ditengah masyarakat modern yang cenderung berpikir transaksional. Hampir semua aktifitas sosial yang dilakukan diukur dengan capaian-capaian. Ingin jadi apa atau dapat apa..yang bersifat duniawi. Karakter tersebut menjadikan kewibawaan dan kemuliaan NU yang dulu pernah diteladankan para pendiri semakin tergerus.

KH. Muhson Hamdani, yang juga merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Ngunut Tulungagung tersebut menekankan pentingnya menjadikan nilai Lillah-Billah sebagai cerminan dalam berorganisasi dan berkhidmah kepada masyarakat. Program-program kerja Lembaga dan Banom NU semestinya didasari dengan semangat Lillahi Ta’ala untuk melakukan yang terbaik. Beliau tidak memungkiri bahwa pertimbangan transaksional menjadi pertimbangan dasar setiap orang saat akan melakukan usaha. Baik transaksional untuk mendapatkan pahala ketika mau melakukan ibadah, untuk mendapatkan materi ketika mau melakukan usaha, atau keinginan-keinginan lainnya. Tindakan atau usaha yang dilakukan dianggap sebagai ‘transaksi’ untuk ‘ditukar atau membeli’ sesuatu seperti yang diinginkannya.

Akan tetapi nilai-nilai dalam NU, baik dalam beribadah maupun berorganisasi mengajarkan untuk mendahulukan semangat Lillahi Ta’ala dan Bismillah sebagai pijakan sementara ‘transaksional’ pada dasarkan merupakan kelaziman dari segala usaha yang dilakukan. Asalkan memiliki kemauan untuk memberikan atau melakukan yang terbaik maka kelazimannya akan mendapatkan hasil yang baik pula.

Lebih lanjut beliau mendorong kepada jajaran pengurus NU baik pada tingkat Cabang, MWC maupun Ranting perlu menempatkan semangat atau niatan lillahi ta’ala sebagai nilai pijakan tindakan tanpa memikirkan transaksionalnya. Atau menempatkan (memandang) ‘transaksional’ sebagai kelaziman bahasa Jawanya wis dadi gandengane. Pengelolaan Lembaga Pendidikan, misalnya, asalkan dikelola semaksimal mungkin untuk memberikan fasilitas dan layanan pembelajaran yang berkualitas (lembaga elit) dengan mendahulukan semangat lillahi ta’ala, maka kelazimannya (transaksional-pen) disamping pahala dan ridho Allah Swt, kelazimannya akan banyak diminati oleh para orang tua yang ingin menyekolahkan anak-anaknya meskipun berbiaya mahal. Apabila jajaran pengurus NU bisa kembali pada semangat Lillah-Billah ini, maka insya’aallah NU akan bisa kembali berwibawa dan mulia sebagaimana kewibawaan NU pada masa-masa dipimpin para mu’asis NU.

postby;ibad.ltn