Membalik atau merubah benda.
Syeikh Ibrohim bin Ad Ham merubah pasir menjadi uang dinar ketika tidak diperbolehkan naik perahu karena tidak membayar.

Syeikh Muhamad al Hanafi r.a. suatu kali ada seorang gubernur mengirimkan sekantong uang perak. Oleh Syeikh uang itu kemudian dilemparkan kepada hadiri semua samapai habis, untuk memperlihatkan pada utusan gubernur itu bahwa orang seperti dia tidak membutuhkan uang. Setelah mendengar hal itu sang gubernur kemudian datang sendiri menemui Syeikh. Syeikh berkata, “berdirilah kamu menuju sumur itu, isilah kolamnya untuk berwudhu’ nanti pahalanya akan masuk buku catatanmu sampai hari kiamat”. Gubernur itu kemudian menimba air, namun ketika diangkat terasa sangat berat. Begitu timba itu sampai diatas ternyata air itu telah berubah menjadi emas. Gubernur kemudian mengulaingnya sampai tiga kali, namun kejadian itu masih tetap sama. Lalu Syeikh berkata pada gubernur itu, “Katakanlah pada sumur itu, butuhku air bukan emas”.

Syeikh Ahmad Al Badawi merubah susu yang dibawa oleh seorang lelaki menjadi seekor ular besar yang siap menyemburkan bisanya. Saat itu ada seseorang lewat didepannya dengan membawa guci berisi susu. Syeikh Badawi kemudian mengacungkan telunjuknya kearah guci itu. Guci itu pecah dan susu itu menjadi ular besar.

Khalid bin Walid .r.a. pernah merubah arak menjadi madu. Dalam versi yang lain Khalid bin Walid .r.a. merubah arak menjadi cuka sehingga tak lagi memabukkan.

Syeikh Isa Al Hattar Al Yamani, ada seorang yang mengirimkan dua botol yang penuh dengan arak. Maka ia menuangkan salah satunya pada yang botol yang lainnya dan berkata “Bismillah, makanlah”. Mereka semua kemudian memakannya ternyata telah berubah menjadi samin yang sangat lezat, yang belum pernah mereka temukan sebelumnya.

Ketaatan hewan.
Safinah pelayan Rasulullah bercerita, “Aku naik perahu, kemudian perahu itu pecah, maka aku naik papan pecahan dari perahu itu sampai kepantai. Kemudian aku bertemu seekor macan, aku menyapanya “Hai abul harits, aku adalah Safinah pelayan Rasulullah”. Harimau itu menundukkan kepalanya dan menaikkanku keatas punggungnya lalu mengantarkanku disebuah jalan. Dijalan itu harimau itu mengaum, maka aku paham ia mengucapkan selamat berpisah untukku.

Salman Al Farisi suatu hari keluar dari Madain bersama tamunya. Tiba-tiba ada sekawanan kijang berjalan dipadang pasir dan burung-burung terbang diangkasa. Salman berkata, “Kemarilah wahai kijang dan burung, karena aku kedatangan seorang tamu yang sangat ingin aku muliakan”. Maka datanglah seekor burung dan kijang kepadanya. Tamu itu keheranan. Salman menjawab, “Apakah kamu heran melihat seorang hamba yang taat kepada Allah tetapi ia didurhakai oleh sesuatu?”.

Dzun an Nun al Misriy, dalam perjalanannya dari Mesir ke Jeddah, naik kapal bersama serombongan penumpang lainnya. Diantara penumpang itu, ada seorang anak muda memakai baju rombeng. Suatu hari ada berita kehilangan buntelan emas dan berlian. Seisi kapal menuduh si pemuda itu yang mencurinya dan berniat mencelakainya. Dzun an Nun kemudian berkata pada mereka, “Kalian diam dulu biar aku yang menanyainya”. Dzun an Nun kemudian mendekati pemuda itu dan berkata, “Mereka semua menuduhmu, mereka bahkan ingin menyakitimu, lalu aku cegah mereka. Maka sekarang apa yang akan kita lakukan?”. Pemuda itu mengangkat alisnya kelangit sembari berkomat-kamit mengatakan suatu rahasia. Tiba-tiba muncullah sekawanan ikan paus dipermukaan air. Pada mulut masing-masing ikan paus itu terdapat berlian. Pemuda itu mengambil sebutir berlian dari mulut salah satu ikan paus, lalu mengembalikan pada pemilik buntelan. Pemuyda itu kemudian meletakkan kakinya diair, kemudian berjalan dn hilang dalam sekejap. Sipencuri yang sebenarnya menjadi sangat takut dan kemudian mengaku.

Ibrahim bin Ad Ham ketika berada dipantai bersama teman-temannya tiba-tiba memiliki keinginan untuk makan daging bersama. Ibrahim kemudian memerintahkan harimau untuk menerkam kijang. Setelah kijang itu tertangkap oleh harimau itu, Ibrahim kemudian mengambilnya. Kijang itu kemudian disembelih untuk makan bersama sementara harimau itu hanya duduk dan melihatnya saja.

Ibrahim bin Ad Ham memerintahkan harimau yang menghadang perjalanan serombongan orang agar menyingkir. Dan harimau itupun memahaminya lalu menyingkir.

Syeikh Baha’udin An Naqsyabandi bila ada kuda yang liar dan nakal, hanya menyentuhnya dengan tangan maka kuda itu menjadi jinak.

Syeikh Abdul Wahab as Sya’roni semasa kecilnya pernah berenang disungai Nil dan tenggelam, tetapi akhirnya beliau dibawa oleh buaya yang disangkanya batu. Saat itu Syeikh masih kecil sehingga belum bisa membedakan antara buaya dan batu didalam air. Sehingga beliau kemudian berdiri diatas punggung buaya yang disangkanya batu itu. Buaya itu membawanya ketepian.

Syeikh Ibrahim ad Dasuqi pernah didatangi seorang ibu yang anaknya dimakan buaya. Syeikh kemudian memerintahkan salah satu santrinya agar pergi kepantai dan memanggil, “Hai buaya-buaya, siapa diantara kalian yang menelan anak kecil perlihatkanlah!”. Kemudian buaya itu datang bersama santri itu menghadap Syeikh. Lalu Syeikh memerintahkan buaya itu agar mengeluarkan anak kecil itu dari perutnya. Anak itu dikeluarkan dalam keadaan masih hidup dan Syeikh kemudian berkata, “matilah kau buaya dengan izin Allah”. Buaya itupun mati.

Ketaatan benda mati.
Umar Ibn Khatthab pernah memerintah sungai Nil yang telah tiga bulan tidak mengalir agar mengalir lagi. Pada masa jahiliyah, apabila sungai Nil tidak mengalir maka dilemparkan seorang perawan lengkap dengan perhiasannya sebagai tumbal. Namun sejak Islam datang hal itu dilarang. Setelah tiga bulan Nil tidak mengalir, penduduk Mesir mendatangi Amr bin Ash bahwa akan melempar tumbal. Amr bin Ash melarangnya. Amr bin Ash kemudian berkirim surat pada Umar bin Khotob. Umar kemudian mengirim secarik kertas agar dilempar kesungai Nil. Kertas itu berbunyi, Jika kamu mengalir karena dirimu sendiri, maka jangan mengalir. Namun jika Allah yang Maha Esa dan Maha Perkasa yang mengalirkanmu, maka kami memohon kepada Allah yang Maha Esa dan Maha Perkasa untuk membuatmu mengalir. Kemudian Amr bin Ash melemparkan kertas itu kesungai Nil. Pagi harinya sungai itu telah mengalir kembali sementara penduduk Mesir sudah akan mengungsi.
Umar juga pernah memerintahkan api yang membakar sebuah perkampungan di Madinah agar padam dengan melempar secarik kain yang ditulisi “Hai api, padamlah dengan izin Allah”.

Tamim al Dari pernah diperintah oleh Umar bin Khathab untuk menangani api yang berkobar muncul dari tanah. Tamim segera bangkit menuju ketempat sumber api dengan diikuti Umar dan Mu’awiyah bin Harmal. Tamim kemudian menggiring api itu dengan tangannya, sampai api itu masuk kedalam goa. Lalu Umar berkata “Tidaklah sama antara orang yang menyaksikan hal ini dengan yang tidak menyaksikannya”.

Abu Muslim r.a. ketika berhadapan dengan Aswad bin Qais bin Dzul al Khamar yang mengaku sebagai seorang nabi Yaman, bersikukuh tidak mau mengakui Aswad. Setelah berulang-ulang ditanya dan dipaksa Abu Muslim tetap tidak mau mengakui, akhirnya Aswad menyuruh orang-orangnya menyalakan api yang sangat besar. Setelah siap Abu Muslim kemudian dilemparkan dalam api tersebut. Tetapi Abu Muslim tidak mengalami apa-apa. Akhirnya Abu Muslim diusir dari Yaman dan berangkat ke Madinah yang saat itu pimpinan dipegang oleh Abu Bakar r.a.

Sulthon ulama Izzuddin Ibnu Abdissalam suatu kali pernah memerintah angin untuk menghancurkan pasukan musuh dalam perang Faraj. Angin itu kemudian menjadi badai yang menghancurkan pasukan musuh.

Syeikh Abdul Qodir al Jilani memerintahkan terompahnya agar menyerang perampok yang akan memperkosa seorang perempuan, ditempat yang sangat jauh. Akhirnya perampok itu mati seketika dihantam oleh terompah tersebut.

Syeikh Muhammad al Hanafi ketika sedang berwudhu, pernah melemparkan salah satu terompahnya dari kamarnya yang tidak berjendela untuk menolong orang yang sedang dirampok dinegeri Syam. Kemudian menyuruh pembantunya untuk menunggui terompah yang satunya sambil menunggu terompah yang dilempar itu kembali. Tak berapa lama kemudian datang orang Syam mengantarkan terompah syeikh sambil mengucapkan terimakasih.
Membungkam lisan dari pembicaraan atau melepaskan lisan untuk bicara sendiri.

Para santri Syeikh Muhamad al Hanafi memberitahukan pada syeikh bahwa akan datang seorang hakim ahli hukum fiqh yang ingin menguji kecerdasan beliau. Syeikh berkata, “Kalau hakim itu mampu bertanya padaku, maka aku akan meninggalkan sajadah fuqoro’ (kesufian) ini”. Setelah hakim itu datang ternyata sama sekali tidak mampu bertanya pada syeikh.

Kekuatan bertahan dari ketiadaan makanan dan minuman dalam waktu yang panjang.
As Habul Kahfi sanggup bertahan tanpa makanan dan minuman selama lebih dari tigaratus tahun.

Syeikh abu Hasan Ali as Syadzili r.a pernah lapar tidak makan sampai 80 hari lamanya. Beliau merasa bahwa tujuannya hampir berhasil. Kemudian ada seorang perempuan keluar dari goa berkata, “Sial, baru lapar 80 hari saja sudah merasa berhasil, sedangkan aku sudah 6 bulan lamanya belum pernah merasakan makanan sedikitpun.

Sunan Kalijogo selama berbulan bulan sanggup duduk menunggui tongkat sunan Bonang dipinggir Sungai. Sunan Geseng sanggup bersujud berbulan-bulan atas perintah Sunan Kalijaga.

Kemampuan mendatangkan atau memperbanyak makanan
Sahabat Jabir r.a. menceritakan bahwa ketika ia dan para sahabat menggali parit pada saat perang Khandaq, ada batu besar yang sangat keras. Kemudian para sahabat menemui Nabi Saw. Nabi kemudian turun tangan, sementara perutnya diganjal dengan batu. Mereka sudah tiga hari menggali parit tanpa makan dan minum. Lalu Rasulullah mengambil cangkul dan memukul batu itu sampai hancur lebur seperti pasir. Jabir pulang kerumah istrinya dan bertanya, “Apakah engkau memiliki makanan? Aku melihat Rasulullah kelaparan”. Istri Jabir mengeluarkan kantong kulit berisi satu gantang gandum. Keduanya juga memiliki seekor ternak lalu mereka sembelih. Istri Jabir menggiling gandum dan memasak daging. Jabir kemudian menemui Rasulullah dan membisiki Beliau, “Ya Rasulullah, kami menyembelih ternak dan menggiling segantang gandum. Silakan kerumahku bersama pasukanmu”. Nabi berkata, “Hai para penggali parit, Jabir membuat makanan untuk kalian. Ya Jabir jangan kau turunkan dulu periukmu dan jangan kau buat adonan itu sampai aku datang”. Beliau kemudian kerumah Jabir, mengeluarkan adonan rotinya, beliau meludahinya dan memberkahinya. Beliau kemudian menghampiri periuk, meludahinya dan memberkahinya, lalu berkata, “Siapkan adonan itu, buatlah roti. Nyalakan api periukmu dan jangan kau turunkan karena mereka berjumlah seribu orang”. Jabir berkata, “Aku bersumpah demi Allah, mereka menyantap makanan itu, lalu pergi, padahal periuk kami tetap tertutup seperti sebelumnya dan adonan roti kami masih seperti semula”. (HR. Bukhari). Dan masih banyak hadist yang lain yang menceritakan mukjizat Nabi Saw yang berhubungan dengan makanan ini Jabir sendiri meriwayatkan empat hadist yang berbeda. Diantaranya adalah hadist yang diriwayatkan oleh Anas r.a. tentang pernikahan Zaenab, tentang suguhan Abu Thalhah dan Ummu Sulaim pada Nabi Saw, cerita Abu Hurairah dalam perang Tabuk dll.

Ummu Syarik al Dausiyah r.a. berhijrah, ditengah jalan ia berkawan dengan seorang Yahudi. Pada saat itu Ummu Syarik dalam keadaan berpuasa. Yahudi itu berkata pada istrinya, “Jika kau memberinya minum aku benar-benar akan marah”. Sampai dipenghujung malam, Ummu Syarik masih berpuasa karena tidak ada makanan untuk berbuka. Tiba-tiba diatas dada Ummu Syarik ada timba, lalu ia meminumnya. Kemudian Yahudi tersebut berkata, “Aku mendengar suara orang minum”. Istri Yahudi menyahut, “Demi Tuhan aku tidak memberinya minum”.

Sayidina Abu Bakar pulang bersama dengan tiga orang tamu yang berniat menghadiri makan malam dengan Rasulullah. Istri Abu Bakar bertanya, “Apa yang bisa kau suguhkan untuk tamumu?”. Abu Bakar balik bertanya, “Apa yang kau miliki untuk menjamu makan malam mereka”. “Aku telah bersiap-siap menunggu engkau datang”. Jawab istrinya. “Demi Allah aku tidak akan bisa menjamu mereka selamanya”. Abu Bakar kemudian mempersilahkan para tamunya makan. Salah satu tamunya berkata, “Demi Allah, setiap kami mengambil sesuap makanan, makanan itu bertambah banyak. Kami merasa kenyang tetapi makanan itu justru menjadi lebih banyak dari sebelumnya”. Abu Bakar yang melihat makanan itu tetap seperti semula bahkan lebih banyak kemudian bertanya pada istrinya, “Hai ukhti Bani Firas, apa yang terjadi?”. Akhirnya abu Bakar membawa makanan itu kepada Rasulullah dan meletakkan dihadapan beliau. pada waktu itu ada pertemuan kaum mukminin yang dibagi dalam duabelas kelompok. Beliau menyuruh mereka semua menikmati makanan itu.

Ubaidillah bin Abu Ja’far (tabi’in) saat berangkat berperang melawan pasukan Istanbul, tiba-tiba perahu yang mereka tumpangi pecah dihempas gelombang. Setiap lima sampai enam orang berpegangan pada sebilah papan. Berhari-hari mereka terapung-apung. Tetapi setiap kali memasuki waktu sore, papan-papan itu menumbuhkan daun sesuai dengan jumlah mereka, dengan membawa sari-sari berbagai makanan. Setiap orang menghisapnya sehingga merasa kenyang. Kejadian ini terus berulang-ulang sampai ada sebuah kapal yang menemukan dan mengangkut mereka.
Ibrahim Ibn ad Ham disebuah pantai ketika akan berbuka puasa pernah didatangi hidangan makanan dari langit untuk berbuka.
Sayidah Rabi’ah al Adawiyah, pernah kedatangan dua orang sufi yang sedang kelaparan, sementara ditangannya hanya ada dua potong roti. Tiba-tiba datang pula seorang yang sangat tua meminta makanan padanya. Kedua potong roti itupun diberikan pada orang tua itu sambil berdo’a, “O Tuhanku, Engkau telah berkata, siapa saja yang berbuat kebajikan maka ia akan memperoleh pahala sepuluh kali lipat amalannya”. Dua orang sufi itu kebingungan memikirkan apa yang terjadi. Rabi’ah kemudian berkata, “Tuhanku akan mengurus keperluan anda”. Kedua orang itu melihat ada seorang pelayan yang membawa taplak meja berisi roti. Ketika dihitung ternyata hanya delapan belas potong. Rabi’ah kemudian mengembalikan semua roti itu kepada pembantunya dan berkata, “Bawalah roti ini dan pergilah engkau. Engkau telah salah menghitungnya”. Pembantu itu kemudian mengambil taplak dan mengembalikan pada Rabi’ah sambil mengembalikan yang dua potong lagi.
Kemampuan mendatangkan harta benda lainnya.

Rabiah al Adawiyah suatu hari ketika akan berangkat haji bertemu dengan Syeikh Syaiban ar Ro’iy, beliau berkata, “Aku akan pergi haji”. Syeikh Syaiban kemudian merogoh kantungnya mengambil uang dan diberikan pada Rabi’ah sebagai bekal. Tetapi Rabi’ah justru mengangkat tangannya keatas dan seketika itu tangannya penuh dengan uang emas. Rabi’ah berkata, “Kamu ambil dari kantungmu sendiri, aku ambil dari alam gaib”. Setelah itu keduanya lalu berangkat haji sendiri-sendiri dengan bertawakal dan tanpa membawa bekal.

Syeikh Muhamad al Hanafi r.a. kantong bajunya selalu berisi uang perak. Setiap ada orang faqir murid tharekat, beliau pasti merogoh kantongnya dan memberi uang kepada setiap murida tarekat yang sowan yang tak terhitung banyakanya. Orang yang terbiasa melihat hal itu, menyetakan bahwa pemberian syeikh tersebut lebih banyak daripada pemberian seorang raja.

Melihat Ka’bah
Salah satu kisah yang disepakati kebenarannya oleh ulama mutaakhirin, adalah kisah tentang adanya seorang sufi besar di Kairo yang berwudhu’ dengan tidak beraturan dimadrasah suyufiyah. Kemudian ada orang menegurnya, “Wahai Syeikh, wudhumu tidak berurutan”. Syeikh itu lalu menjawab, “Saya selalu wudhu dengan urut kamu salah lihat”. Ia lalumengambil tangan orang itu dan memperlihatkan Ka’bah kepadanya. Orangitu kemudian melewati Makkah dan melihat syeikh itu ada di Makkah, dan ia tinggal disana beberapa tahun.

Syeikh As Syairozy bisa melihat Ka’bah padahal ia berada di Baghdad.
Melihat tempat yang sangat jauh/ dari balik satir.
Umar bin Khatab r.a. mengangkat Sariyah bin Zanim al Khalji sebagai pemimpin salah satu angkatan perang kaum muslimin untuk menyerang Persia. Digerbang Nihawan, Sariyah dan pasukannya terdesak karena jumlah musuh yang sangat banyak, sehingga pasukan muslim hampir kalah. Sementara Umar saat itu di Madinah sedang naik mimbar dan berkhutbah. Ditengah-tengah khutbahnya, Umar berseru dengan suara lantang, “Hai Sariyah, berlindunglah kegunung. Barang siapa menyuruh untuk serigala menggembala kambing, maka ia telah berlaku zalim!”. Allah membuat sariyah dan pasukannya yang ada digerbang Nihawan dapat mendengar suara Umar di Madinah. Maka pasukan muslim berlindung kegunung dan berkata, “Itu suara Khalifah Umar”. Akhirnya mereka selamat dan memperoleh kemenangan.

Lanjut ke- (3)

Ditulis oleh: MN Ibad-disarikan dari beberapa sumber