Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi digital, panggung Muktamar Kebudayaan Indonesia yang diselenggarakan Lesbumi NU menghadirkan sebuah pemandangan yang meneguhkan harapan tentang masa depan budaya Nusantara. Dari panggung itulah muncul sosok dalang muda asal Tulungagung, Ki Mas Dhalang Riko Kandha Nur Buwana, yang membuktikan bahwa tradisi tidak hanya bertahan, tetapi juga terus tumbuh melalui tangan generasi penerus.

Dalang muda yang merupakan anggota Pakumpulan Dhalang Anom Tulungagung (PAKUDHATU) sekaligus pengurus Lesbumi PCNU Tulungagung tersebut mendapat kehormatan tampil dalam forum kebudayaan berskala nasional atas rekomendasi dalang senior asal Malang, Ki Ardi. Kesempatan itu menjadi penanda bahwa proses regenerasi dalam dunia pedalangan Jawa masih berjalan dengan baik dan mendapatkan tempat yang terhormat dalam ruang-ruang kebudayaan Indonesia.

Dalam penampilannya, Ki Riko membawakan lakon “Wahyu Topeng Waja”, sebuah cerita yang sarat dengan pesan moral, nilai spiritual, dan ajaran tentang keteguhan karakter manusia dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Melalui olah vokal yang matang, penguasaan sabetan wayang yang luwes, serta kemampuan membangun suasana pertunjukan yang komunikatif, Ki Riko berhasil menghidupkan panggung dengan nuansa yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah perenungan. Penonton diajak menyelami ajaran-ajaran kebijaksanaan yang diwariskan para leluhur melalui bahasa simbolik pewayangan.

Penampilan tersebut mendapat apresiasi khusus dari Ki Ardi. Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan potensinya dalam melestarikan seni pedalangan, dalang senior tersebut menyerahkan sebuah tosan aji berupa tombak Karacan berluk tujuh kepada Ki Riko usai pementasan.

Lebih dari sekadar hadiah, penyerahan tosan aji itu mengandung makna simbolis yang mendalam. Dalam tradisi Jawa, tombak Karacan berluk tujuh merepresentasikan perjalanan hidup manusia menuju keselarasan lahir dan batin.

Angka tujuh atau pitu dalam filosofi Jawa memiliki makna yang sangat penting. Ia melambangkan unsur-unsur kehidupan yang menyatu dalam diri manusia, yakni Kakang Kawah, Adi Ari-ari, Getih, Puser, Pancer, Nyawa, dan Sukma. Ketujuh unsur tersebut dipahami sebagai fondasi keseimbangan yang harus dijaga sepanjang perjalanan hidup manusia.

Selain itu, kata pitu juga dimaknai sebagai pitulungan atau pertolongan. Filosofi ini mengajarkan bahwa manusia sejatinya senantiasa membutuhkan petunjuk dan pertolongan dari Tuhan Yang Maha Kuasa dalam menjalani kehidupannya.

Momen penyerahan tombak Karacan berluk tujuh itu menjadi simbol estafet kebudayaan yang berlangsung secara alami. Dari generasi senior kepada generasi muda, dari guru kepada penerus, dari masa lalu menuju masa depan.

Dalam konteks itulah wayang dan tosan aji hadir bukan sekadar sebagai benda budaya atau karya seni tradisional. Keduanya merupakan media pewarisan nilai, identitas, pengetahuan, serta falsafah hidup yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara selama berabad-abad.

Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi NU tahun 2026 menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya bertumpu pada generasi terdahulu. Kehadiran sosok muda seperti Ki Mas Dhalang Riko Kandha Nur Buwana menjadi bukti bahwa semangat menjaga dan mengembangkan warisan leluhur terus tumbuh di kalangan generasi penerus.

Di tangan generasi muda, wayang tidak lagi dipandang sebagai kesenian masa lalu yang kian menjauh dari kehidupan modern. Sebaliknya, ia hadir sebagai ruang dialog yang mampu menjembatani nilai-nilai tradisi dengan realitas masa kini. Begitu pula dengan tosan aji yang tidak semata dipahami sebagai pusaka, melainkan sebagai simbol kearifan dan perjalanan spiritual manusia.

Melalui panggung Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi NU, wayang dan tosan aji tampil sebagai proyeksi budaya lintas generasi, sebuah jembatan yang menghubungkan warisan leluhur dengan tantangan masa depan. Pesan yang disampaikan sederhana namun mendalam: budaya akan tetap hidup ketika diwariskan, dipelajari, dimaknai kembali, dan diteruskan oleh generasi yang siap melanjutkan estafet peradaban bangsa.*

 

Pewarta: Tim Lesbumi PCNU Tulungagung