Muktamar Lesbumi Nasional 2026 yang digelar di Universitas KH Wahab Hasbullah (UNWAHA) Tambakberas, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Jombang, menjadi ruang pertemuan penting bagi para seniman, budayawan, dan pegiat kebudayaan Nahdlatul Ulama dari berbagai daerah di Indonesia.

Tidak hanya menjadi ajang konsolidasi organisasi dan silaturahmi, muktamar ini juga menghadirkan berbagai diskusi, pameran, dan edukasi budaya yang memperkaya wawasan peserta mengenai khazanah warisan Nusantara. Salah satu yang menarik perhatian adalah sesi edukasi keris yang disampaikan oleh Mpu Eko Putranto, empu tosan aji asal Kabupaten Tulungagung sekaligus pengurus Lesbumi PCNU Tulungagung.

Kehadiran Mpu Eko di galeri keris menjadi magnet tersendiri bagi peserta muktamar. Dengan gaya penyampaian yang lugas namun sarat makna, ia mengajak para pengunjung memahami keris tidak sekadar sebagai benda pusaka atau karya seni adiluhung, melainkan sebagai simbol nilai-nilai kehidupan yang diwariskan para leluhur kepada generasi penerus.

Menurut Mpu Eko, setiap bagian atau ricikan pada keris mengandung pesan filosofis yang menggambarkan karakter, kepemimpinan, kebijaksanaan, hingga pengabdian kepada masyarakat.

“Keris adalah media pembelajaran kehidupan. Setiap bentuknya memiliki makna yang mengajarkan manusia tentang tanggung jawab, keseimbangan, dan kebijaksanaan,” ujarnya.

Mpu Eko sendiri dikenal sebagai pelestari budaya keris yang mengelola Padepokan Keris Besalen Pulanggeni di Tulungagung. Dari besalen tersebut lahir berbagai karya tosan aji yang tetap berpegang pada pakem tradisi sekaligus mengedepankan nilai budaya dan spiritualitas Nusantara.

Selain itu, ia juga memiliki pakem keris khas yang dikenal dengan nama Kyai Tala Kencana. Keris ini memiliki ciri unik berupa bentuk kembang kacang yang menggelung ke atas, sebuah karakter yang menjadi identitas tersendiri dan mencerminkan kekhasan karya empu dari Tulungagung.

Pada sesi edukasi tersebut, perhatian peserta tertuju pada sebuah keris yang dipegang oleh Kyai Nurudin, pengurus Lesbumi Tulungagung. Keris tersebut berdapur Panimbal dengan luk sembilan. Kesempatan itu dimanfaatkan Mpu Eko untuk menjelaskan berbagai ricikan yang terdapat pada keris tersebut, seperti kembang kacang, sogokan rangkap, greneng, lambe gajah, dan jalen.

Menurutnya, keris dengan luk sembilan memiliki makna yang sangat kuat dalam tradisi Jawa. Angka sembilan kerap dikaitkan dengan kepemimpinan, kebijaksanaan, kematangan berpikir, serta pencapaian tingkat spiritual tertentu.

Sementara itu, dapur Panimbal memiliki filosofi yang erat dengan pengabdian dan kepemimpinan. Nama Panimbal sendiri bermakna penyeimbang dan penopang, sehingga keris dengan dapur tersebut sering diasosiasikan dengan sosok pemimpin atau pejabat yang mengemban amanah untuk melayani masyarakat.

“Panimbal sering dimaknai sebagai pegangan bagi mereka yang mengabdikan diri kepada masyarakat. Filosofinya adalah menjadi penopang, penyeimbang, dan penguat dalam menjalankan tanggung jawab,” terang Mpu Eko.

Melalui penjelasan tersebut, peserta tidak hanya mengenal bentuk fisik keris, tetapi juga memahami nilai-nilai moral dan filosofi yang terkandung di balik setiap lekukannya.

Kehadiran edukasi keris dalam Muktamar Lesbumi Nasional 2026 menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui pertunjukan seni semata. Upaya memperkenalkan makna, sejarah, dan filosofi yang terkandung dalam warisan budaya juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi.

Pemahaman yang mendalam terhadap keris diharapkan mampu menumbuhkan rasa bangga generasi muda terhadap warisan leluhur, sekaligus mendorong mereka untuk ikut menjaga dan melestarikannya. Terlebih, keris telah diakui dunia sebagai mahakarya budaya Indonesia yang memiliki nilai sejarah, estetika, dan filosofi tinggi.

Melalui Muktamar Lesbumi Nasional 2026, semangat merawat budaya kembali diteguhkan. Pertemuan para seniman, budayawan, dan pegiat kebudayaan ini tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga memperkuat komitmen bersama untuk menjaga warisan tradisi sebagai bagian penting dari perjalanan dan identitas bangsa Indonesia.*

 

Pewarta: Tim Lesbumi PCNU Tulungagung