Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk mengerem keinginan, namun realitasnya sering kali menjadi ajang “balas dendam” kuliner. Di balik tumpukan menu berbuka yang mewah, ada peringatan klasik yang terlupakan: bahwa memanjakan syahwat makan adalah taktik halus untuk menghapus keberkahan puasa.
Bagi banyak orang, pemandangan meja makan saat menjelang berbuka puasa di bulan Ramadhan jauh lebih meriah dibandingkan hari-hari biasa. Berbagai hidangan istimewa, mulai dari takjil yang beraneka ragam hingga menu utama yang serba mewah, seolah menjadi “hadiah” wajib setelah seharian menahan lapar. Namun, benarkah esensi Ramadhan adalah tentang memindahkan jam makan dengan porsi yang lebih besar dan mewah?
Dalam literatur tasawuf yang mendalam, fenomena ini bukanlah hal baru. Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam kitabnya yang fenomenal, *An-Nashaih ad-Diniyyah*, memberikan tamparan keras bagi kita yang terjebak dalam euforia konsumerisme saat Ramadhan. Beliau menuliskan:
وَأَمَّا الَّذِيْنَ يَجْعَلُوْنَ لَهُمْ فِي رَمَضَانَ عَادَاتٍ مِنَ التَّرَفُّهَاتِ وَالشَّهَوَاتِ الَّتِي لَا يَعْتَادُونَهَا فِي غَيْرِ رَمَضَانَ فَغُرُوْرٌ غَرَّهُمْ بِهِ الشَّيْطَانُ حَسَدًا مِنْهُ لَهُمْ حَتَّى لَا يَجِدُوْا بَرَكَاتِ صَوْمِهِمْ وَلَا تَظْهَر عَلَيْهِمْ آثَارُهُ مِنَ الْأَنْوَارِ وَالْمُكَاشَفَاتِ وَالْخُشُوْعِ لِلَّهِ وَالْاِنْكِسَارِ بَيْنَ يَدَيْهِ.
> “Adapun orang-orang yang menjadikan bulan Ramadhan sebagai ajang untuk membiasakan diri dengan berbagai kemewahan (foya-foya) dan memperturutkan syahwat yang tidak biasa mereka lakukan di bulan lainnya, maka itu adalah tipu daya setan yang memperdaya mereka. Hal itu dilakukan setan karena rasa iri (hasad) agar mereka tidak mendapatkan keberkahan puasa, serta tidak muncul pada diri mereka pengaruh puasa yang berupa cahaya-cahaya spiritual, ketersingkapan rahasia ilahi (mukasyafah), kekhusyukan kepada Allah, serta kerendahhatian di hadapan-Nya.” (An-Nashaih ad-Diniyyah, hal. 38)
Dari hal ini, kita bisa melihat pola yang menarik: Setan tidak selalu menggoda manusia untuk membatalkan puasa secara terang-terangan. Strategi yang lebih halus adalah dengan “menggeser fokus”.
Setan memiliki rasa iri (hasad) yang luar biasa terhadap potensi spiritual manusia di bulan Ramadhan. Agar manusia gagal meraih derajat takwa, setan membisikkan narasi bahwa “setelah berjuang seharian, kamu pantas mendapatkan kemewahan ini.” Akibatnya, pikiran kita sejak siang hari sudah dipenuhi dengan daftar belanja dan menu makanan, bukan lagi tentang zikir atau refleksi diri.
Peringatan Imam Al-Haddad tersebut menyoroti empat kerugian besar bagi mereka yang mengistimewakan menu makan secara berlebihan:
1. Padamnya Cahaya Batin (Anwar): Perut yang terlalu kenyang dan hati yang terlalu fokus pada materi akan meredupkan cahaya ketenangan jiwa.
2. Tertutupnya Rahasia Ilahi (Mukasyafah): Kepekaan batin untuk menangkap pesan-pesan Tuhan di alam semesta hanya didapat melalui kesahajaan.
3. Hilangnya Kekhusyukan: Ibadah malam seperti Tarawih akan terasa berat dan mengantuk jika perut diisi secara berlebihan saat berbuka.
4. Sirnanya Rasa Rendah Hati (Inkishar): Esensi puasa adalah merasakan penderitaan fakir miskin. Jika menu kita tetap mewah, empati itu tidak akan pernah tumbuh secara jujur.
Walhasil
Ramadhan bukan sekadar ritual perpindahan jam makan. Mengistimewakan menu buka dan sahur secara berlebihan justru mencederai hakikat puasa itu sendiri. Tantangan terbesar kita hari ini bukan lagi menahan lapar di siang hari, melainkan menahan nafsu belanja dan makan di malam hari.
Mari jadikan meja makan kita tetap sederhana, agar hati kita punya ruang untuk menerima cahaya-cahaya langit yang jauh lebih mengenyangkan daripada sekadar hidangan mewah.
Oleh: Kang Yanu
Komentar Terbaru