Siapakah sebenarnya wali itu?, adalah sebuah permasalahan yang cukup rumit untuk dibahas. Teori tentang per wali an sendiri baru muncul pada akhir abad ke sembilan yaitu ketika para ahli tashawuf seperti Al Kharaj, Sahl at Tustari dan Hakim at Tirmidzi menuliskan tentang wali dalam buku-buku mereka.
Abul Qosim Al-Qusyairi An-Naisabury mendefinisikan waliyullah adalah mereka yang senantiasa berada dalam ketaatan hingga Allah Ta’ala mencintainya. Jika Allah Ta’ala sudah mencintai hambanya, maka ia akan senantiasa berada dalam perlindungan, pemeliharaan, dan penjagaan-Nya. Abu Abdullah as Salimi memaknai waliyullah adalah mereka yang dapat dikenali karena pembicaraan mereka yang baik-baik, tingkah laku yang sopan dan merendahkan diri, murah hati, tidak suka berselisih dan menerima maaf dari siapa saja yang meminta maaf kepadanya, halus budi terhadap segala ciptaan baik yang bagus maupun yang jelek. Sementara Ibnu Arabi menyatakan bahwa seseorang itu baru bisa disebut wali ketika ia sudah mampu mencapai tingkatan ma’rifat, yaitu tingkatan tertinggi dalam kalangan tashawuf akhlaqi. Ma’rifat bukanlah hasil pemikiran manusia, tetapi tergantung pada kehendak dan rahmat Allah Swt, Ma’rifat merupakan pemberian Allah kepada seorang sufi yang dipandang sanggup menerimanya. Begitu banyak perbedaan pendapat tentang wali ini dikalangan ulama sehingga ada ulama yang mencoba menengahi perbedaan pendapat itu dengan mengetengahkan bahwa wali itu terbadi dua, yaitu wilayah al ammah (kewalian umum) yaitu derajat kewalian yang dimiliki orang-orang mukmin dan muttaqin pada umumnya, wilayah al khashah (kewalian khusus) yaitu orang-orang tertentu yang mencapai atau dianugerahi derajat kewalian yang selalu diperingatkan Allah melalui mimpi-mimpinya .
Syekh Yusuf an Nabhani menyatakan bahwa dalam setiap masa, banyak tersebar para waliyullah diberbagai pelosok muka bumi. Syekh Yusuf An Nabhani selanjutnya mengelompokkan karakteristik para waliyullah tersebut dalam tiga kategori; 1) Kelompok waliyullah yang bisa dihitung dan ditentukan jumlahnya; 2) Kelompok wali yang tidak ditentukan jumlahnya, dan; 3) Kelompok wali yang ditentukan dan tidak ditentukan jumlahnya.

Kategori Waliyullah yang ditentukan jumlah;
• Wali aqthab disebut juga wali qutb atau wali ghaust, adalah wali yang paling sempurna dan didunia ini hanya ada 1 pada setiap masanya.
• Wali aimmah yang dalam setiap zaman jumlahnya tidak lebih dari 2 orang. Wali aimah ini yang nantinya akan menggantikan wali qutb ketika wali qutb itu telah meninggal.
• Wali autad yang dalam setiap masa ada 4 orang, masing-masing tinggal diarah timur, barat, selatan dan utara dari Ka`bah. Sebagian diantara mereka bisa merupakan wali perempuan. Gelar mereka adalah Abdul Hayi, Abdul Qodir, Abdul Alim dan Abdul Murid.
• Wali abdal yang dalam setiap masa ada 7 orang, yang masing-masing memiliki wilayah dan daerahnya sendiri-sendiri. Satu wali mengikuti jejak Ibrahim Al Khalil, satu wali mengikuti jejak Musa Al Kalim, satu wali mengikuti jejak Harun as, yang satu mengikuti jejak Idris as, yang satu mengikuti jejak Yusuf as, yang satu mengikuti jejak Isa as dan satunya lagi mengikuti jejak Adam as. Disebut badal (abdal) karena seringkali bila ia ingin bepergian meninggalkan daerah yang ditempatinya, maka ia akan meninggalkan seseorang yang mirip dengan dirinya sehingga sosok itu terlihat seperti dirinya .
• Wali nuqaba berjumlah 12 orang setiap masa. Setiap wali naqib memiliki pengetahuan tentang rahasia satu galaksi.
• Wali nujaba yang dalam setiap masa jumlahnya ada 8 orang. Mereka adalah orang-orang yang terlihat dalam diri mereka tanda-tanda diterimanya kondisi spiritual yang diperoleh sebagai anugerah. Mereka tidak mengusahakannya tetapi kondisi itu datang sendiri menguasai mereka. Hanya orang yang kondisi spiritualnya berada diatas mereka yang mengetahui orang-orang ini.
• Wali hawariyun jumlahnya hanya 1 orang disetiap masanya. Hawariyun adalah orang yang membela agama dengan pedang dan hujjah. Ia dikaruniai ilmu, ketekunan beribadah, hujjah, kemahiran berperang, keberanian dan keteguhan. Maqamnya adalah mempertahankan agama yang disyariatkan.
• Wali rajabiyun yang dalam setiap masa jumlahnya 40 orang. Dinamakan Rojab karena kewaliannya hanya berlangsung dibulan Rojab saja. Pada hari pertama ia merasakan kondisi yang sangat berat seperti memikul beberapa lapis langit sehingga tidak bisa mengedipkan mata dan menggerakkan badan. Ia hanya bisa berbaring. Kondisi ini kemudian sedikit demi sedikit berkurang dihari kedua, tetapi ia masih tetap hanya bisa berbaring saja. Setelah dua hari atau tiga hari akhirnya ia baru bisa berbicara sampai akhir bulan. Menginjak bulan Sya`ban ia kembali pada kondisinya semula.
• Wali khatmu jumlahnya hanya 1 orang sepanjang masa. Dia adalah Isa as.
• Wali yang hatinya seperti Adam, jumlahnya 300 orang setiap zaman. Ciri mereka adalah selalu memanjatkan doa Nabi Adam yaitu, Ya Tuhan kami, kami telah berbuat zalim kepada diri kami sendiri. Dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami niscaya kami termasuk orang yang merugi .
• Wali yang hatinya seperti Nuh as, jumlahnya 40 orang setiap zaman. Mereka ini selalu mengucapkan doa sebagaimana doa nabi Nuh as. Yaitu Ya Tuhanku. Ampunilah aku, kedua orang tuaku, orang yang masuk kerumahku dengan beriman, dan semua orang yang beriman baik laki-laki atau perempuan. Dan janganlah engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim selain kebinasaan . Orang ini untuk mencapai tingkatan tersebut berkhalwat selama empat puluh hari sebagai pembukaan dengan mendasarkan pada hadist, “Barangsiapa membersihkan hati karena Allah selama empat puluh hari, maka akan keluar dari hatinya sumber-sumber hikmat melalui lisannya”.
• Wali yang hatinya seperti Ibrahim jumlahnya 7 orang setiap zaman. Maqam(kedudukan/derajat ruhani) mereka telah terselamatkan dari keraguan dan kebimbangan. Allah mencabut belenggu dunia dari hati mereka. Mereka tidak mempunyai buruk sangka pada orang lain.
• Wali yang hatinya seperti Jibril as, jumlahnya 5 orang setiap zaman. Mereka memiliki ilmu yang dimiliki Jibril berupa kekuatan yang dilambangkan dengan sayap-sayap yang digunakan untuk naik turun langit.
• Wali yang hatinya seperti Mikail as, yang dalam setiap masa jumlahnya 3 orang. Mereka dikaruniai kebaikan, kasih sayang dan belas kasih Allah, lapang dada, murah senyum, lemah lembut, penuh belas kasih dan memiliki ilmu yang sebanding dengan Mikail.
• Wali yang hatinya seperti Israfil as yang dalam setiap masa 1 orang. Ia memiliki kekuasaan untuk memerintah dan melarang serta tidak berat sebelah dalam memandang permasalahan. Orang yang bisa masuk dalam golongan ini adalah Nabi Isa as dan Imam Abi Yazid Al Bisthami.
• Wali yang hatinya seperti nabi Dawud as.
• Wali rijalul ghaib jumlahnya 10 orang. Mereka adalah orang khusuk dalam shalat dan selalu berbicara dengan suara berbisik karena Allah selalu menyingkapkan diri Nya (tajalli) kedalam jiwa mereka. Mereka sangat pemalu jika mendengar ada orang yang berbicara dengan keras, urat leher mereka menonjol dan mereka tampak keheranan. Para ulama ada yang mengartikan rijalul ghaib ini dengan manusia yang tidak bisa dilihat dengan mata, ada juga yang mengartikannya dengan sekelompok jin yang saleh.
• 18 orang wali yang menegakkan perintah Allah.
• 8 orang wali yang memiliki kekuatan ilahi.
• 5 orang wali yang memiliki kekuatan seperti wali yang memiliki kekuatan ilahi.
• 15 orang wali yang memiliki kelemah halusan dan kasih sayang ilahiyah.
24 orang wali yang mendapatkan fath (pembukaan) Allah menyingkapkan pengetahuan-pengetahuan dan rahasia-rahasia pada mereka. Jumlah mereka sesuai dengan jumlah jam. Disetiap jam ada satu orang yang dibukakan oleh Allah tentang pengetahuan dan rahasia, baik diwaktu siang maupun malam.
• 7 orang wali yang memiliki tingkatan-tingkatan yang tinggi. Mereka berada ditingkatan yang paling tinggi, mereka adalah para wali dan pemilik martabat yang tinggi.
• 21 orang wali yang berada dilapisan paling bawah. Mereka adalah orang-orang yang memperoleh roh dari Allah tanpa pengetahuan tentang roh mereka sendiri.
• 3 orang wali yang diberi kelapangan ilahiyah dan kauniyah, dari kalangan laki-laki dan perempuan.
• 3 orang wali yang berjiwa ilahiyah yang maha pengasih. Satu wali terkadang perempuan atau laki-laki yang mempunyai sifat Allah yang dinyatakan dalam Al Qur’an, dan Dia lah yang berkuasa atas hamba-hamba Nya . Ia bisa menguasai segala sesuatu kecuali Allah dan mempunyai kecerdasan, keberanian dan keperkasaan. Ia selalu berkata benar dan menghukum secara adil.
• 1 orang wali yang merupakan gabungan dari beberapa unsur. Ia menyerupai Nabi Isa as yang terlahir dari malaikat dan manusia, tidak diketahui apakah ia mempunyai ayah seorang manusia, sebagaimana Bilqis yang menurut cerita dilahirkan dari jin dan manusia. Ia gabungan dari dua unsur yang berbeda. Ia adalah perantara Allah yang bertugas menjaga alam barzah terus menerus. Ia terlahir hanya dari sel telur ibunya. Ini berbeda dengan pandanga para ahli alam.
• 1 orang wali, terkadang perempuan, yang mengetahui detil semua alam. Ia orang yang mempunyai maqam aneh, ia membingungkan ahli tarikat yang mengenalnya sebagai qutb padahal ia bukan qutb.
• 1 orang wali yang maqamatnya dinamakan Saqiit Rufrah, anak dari Saqiit Ars.
• 2 orang wali yang disebut sebagai orang-orang yang membutuhkan Allah. Mereka ada disetiap zaman dialam anfas (alam nafas kehidupan itu sendiri). Mereka adalah para wali yang memiliki beberapa kedudukan, sebagaimana sebelumnya. Sifat keduanya dinyatakan dalam ayat “sesungguhnya Alllah tidak membutuhkan sesuatu dari semesta alam”. Allah menjaga maqam keduanya. Salah satu dari mereka mampu menyingkap alam syahadah (alam yang bisa di indera, alam kasatmata), dan semua orang yang ada di alam syahadah membutuhkan orang ini. Sedangkan yang satunya mampu menyingkap alam malakut (alam ghaib, alam bentuk halus), dan setiap orang yang membutuhkan Allah dialam malakut membutuhkan orang ini. Yang menolong dua orang tersebut adalah ruh yang tinggi yang melaksanakan kebenaran. Jadi, jika ditambah dengan ruh tersebut maka golongan ini terdiri dari tiga orang. Dan jika dilihat dari sisi manusia maka ada dua. Terkadang dari kalangan perempuan. Ia kaya hati membutuhkan Allah sedangkan Allah tidak membutuhkannya.
• 1 orang wali yang selalu menyebut nama Allah dalam hatinya disetiap tarikan nafas. Tidak ada wali yang lebih menakjubkan daripada dia. Tidak ada ahli Ma’rifat yang lebih mulia pengetahuannya daripada orang yang memiliki maqom ini. Sifatnya dalam firman Allah, “tidak ada sesuatupun yang serupa dengan dia dan dialah yang maha mendengar lagi maha melihat . Kemudian kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali . Urat lehernya selalu menonjol karena takut kepada Allah”.
• 10 orang wali yang bijak dan memiliki kelebihan. Maqom mereka adalah mampu mencapai tujuan khusus dengan do’anya yang selalu terkabul. Hal mereka adalah keimanan yang selalu bertambah kepada hal ghaib dan yakin akan mendapatkan hal ghaib itu. Tidak ada yang ghaib bagi mereka karena segala yang ghaib dapat mereka saksikan. Segala keadaan mereka adalah ibadah. Firman Allah, “Dan katakanlah ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan, Supaya keimanan mereka bertambah disamping keimanan mereka yang telah ada”.
• 12 orang wali yang disebut Al Bu`Dala, berbeda dengan abdal. Maqom mereka adalah mampu mencapai tujuan khusus dengan doanya yang selalu terkabul. Haliyah (kondisi) mereka adalah selalu bertambahnya keimanan dan keyakinan kepada hal ghaib. Mereka dinamakan bu’dala kjarena jika sembilan orang dari mereka sudah tidak ada, maka yang satunya menggantikan kedudukan dan tugas mereka.
• 5 orang wali yang disebut para perindu (rijalul istiyaq). Mereka adalah para pemimpin ahli tharikat. Melalui merekalah Allah menjaga eksistensi alam. Sifat mereka dinyatakan dalam Al Quran, Jagalah sholat-sholatmu dan jagalah sholat wustho . Mereka tidak pernah meniggalkan sholat baik siang maupun malam.

Kategori Waliyullah yang tidak ditentukan jumlahnya;
• Wali Mulamatiyah, ada yang menyebutnya Malamiyah. Mereka adalah raja dan pemimpin ahli tharikat. Pemimpin mereka adalah Muhamad Saw. Mereka adalah orang bijak yang menempatkan dan menghukumi segala sesuatu sesuai tempatnya, serta menyatakan dan menghilangkan sebab-sebab sesuai dengan tempatnya. Mereka tidak pernah meninggalkan apa yang telah diatur Allah atas makhluknya untuk mengikuti apa yang telah mereka atur sendiri. Mereka tidak meninggalkan dunia untuk mengejar akhirat atau meninggalkan akhirat untuk mendapatkan dunia. Mereka, melihat sesuatu dengan kaca mata Allah dan tidak mencampur adukkan hakikat. Kemampuan dan kekuatan orang ini hanya diketahui oleh pemimpin mereka yang menyaring dan menempatkan mereka pada maqom tertentu. Jumlah mereka tidak tentu, bisa bertambah dan berkurang.
• Wali Fuqara jumlahnya tidak terbatas. Yaitu wali yang selalu membutuhkan Allah.
• Wali Sufiyah, jumlahnya tidak terbatas. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai akhlak mulia, sehingga dikatakan, “barang siapa ahlaknya bertambah baik, maka bertambah pula kesufiannya”. Maqom mereka berada dalam satu hati. Mereka tidak pernah mengatakan tiga kalimat, “ini untukku”, “ini punyaku” dan “ini hartaku”. Artinya mereka tidak mengatakan bahwa mereka memiliki sesuatu. Mereka merasa tidak mempunyai apa-apa karena semuanya milik Allah. Bagi mereka apa yang mereka miliki sama saja dengan sesuatu selain Allah, disertai pengakuan bahwa malhluk tidak memiliki apa-apa. Mereka tidak mencari maqom ini. Tingkatan ini adalah tingkatan ketika hal-hal luar biasa muncul dari diri mereka karena usaha yang mereka lakukan untuk membuktikan kebenaran agama dalam keadaan dlarurat.
• Wali Ubbad, yaitu orang-orang yang senantiasa melakukan ibadah wajib. Mereka tidak melakukan ibadah-ibadah yang tidak wajib. Sebagian mereka berkelana ke gunung-gunung, padang rumput, pantai, dan jurang, karenanya mereka disebut para pengembara (Al Gharib). Sebagian lagi tidak pernah meninggalkan rumah melainkan selalu sholat berjamaah, dan sibuk dengan diri sendiri. Sebagian mereka menggunakan perantara (sebab-sebab) untuk mengenal Allah dan sebagian lagi tidak menggunakannya. Mereka adalah orang-orang yang saleh baik lahir maupun bathin. Mereka mengarahkan sifat-sifat yang mulia untuk tujuan-tujuan yang terpuji. Mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang Ma’rifat, rahasia-rahasia dan alam malakut, serta tidak memahami ayat Allah ketika dibacakan. Jika pahala, qiyamat dan kengeriannya, neraka, dan surga diperlihatkan kepada mereka, mereka meneteskan air mata. Mereka jarang tidur dan selalu berpuasa untuk berlomba-lomba menuju kesuksesan.
• Wali Zuhad, yaitu orang-orang yang meninggalkan keduniawian.
• Para wali yang tinggal di air (rijalul ma`). Mereka adalah golongan yang menyembah Allah didasar laut dan sungai. Tidak ada seorangpun yang mengetahui mereka.
• Wali Afrad yaitu orang-orang yang sendirian (afrad), mereka adalah orang yang mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan ketentuan syara`.
• Wali Umana`, yaitu orang yang terpercaya.
• Wali Qurra`, yaitu para pembaca. Mereka adalah ahlullah dan hambanya yang khusus.
• Wali Ahbab, yaitu orang-orang yang dicintai dan mencintai Allah. Kelompok ini terbagi dua. Satu kelompok adalah orang yang sejak semula telah dicintai Allah dan satu kelompok adalah orang yang dicintai Allah karena mentaati Rasulullah.
• Wali Muhadats, yaitu para wali yang diajak bicara oleh Allah atau malaikat. Kelompok ini terbagi dua, pertama kelompok yang diajak bicara langsung oleh Allah dengan melalui hijab. Kedua kelompok yang diajak bicara oleh malaikat karena mereka telah melakukan riyadhah dan bersih dari noda. Setiap muhadats diajak bicara oleh ruh yang sesuai dengannya. Banyak muhadats yang tidak tahu siapa yang berbicara dengan dirinya.
• Wali Akhila, yaitu yang menjadi kekasih Allah.
• Wali Sumara yaitu wali muhadats yang hanya berbicara dengan Allah dan tidak dengan malaikat.
• Wali Waratsah. Mereka ada tiga macam. Orang yang menganiaya diri sendiri demi melakukan kebaikan, yang bersikap tengah-tengah dalam melakukan kebaikan dan orang yang lebih dahulu dalam melakukan kebaikan.

Kategori Waliyullah yang ditentukan dan tidak ditentukan jumlahnya;
• Wali Anbiya, yaitu orang-orang yang mendapatkan anugerah derajat kenabian. Mereka adalah orang-orang yang dipilih Allah untuk Allah saja dan untuk mengabdi. Mereka diharuskan untuk beribadah dan tidak diperintahkan untuk melakukan ibadah selain yang diwajibkan. Maqam wali anbiya ini merupakan maqom khusus. Mereka mendapatkan ketetapan dari Allah tentang halal haram khusus untuk mereka sendiri dan bukan untuk orang lain.
• Wali Rasul, yaitu para nabi yang diutus untuk sekelompok umat manusia seperti kedua puluh empat rasul atau seluruh umat manusia seperti Nabi Muhamad Saw (Hanya Nabi Muhamad Saw yang diutus untuk seluruh umat manusia).
• Wali Shidiqun (orang-orang yang tulus mengimani Allah dan rasul Nya). Yaitu orang yang beriman karena mendengar perkataan dari rasul dan bukan karena adanya dalil-dalil.
• Wali Syuhada, yaitu orang-orang yang mati syahid.
• Wali Sholihun, yaitu orang-orang yang shaleh. Orang yang shaleh adalah orang yang tidak memiliki cacat dalam perbuatan dan keimanan mereka kepada apa yang berasal dari Allah. Apabila ada cacat maka batalah kedudukannya sebagai orang shaleh.
• Wali Muslimun wal muslimat, yaitu orang-orang muslim. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan anugrah Islam, yaitu ketundukan secara khusus kepada apa saja yang berasal dari Allah, bukan yang selain Allah. Mereka adalah orang berserah diri kepada segala kewajiban, syarat dan kaidah Allah. Apabila ada sedikit syarat yang tidak terpenuhi, maka ia bukan termasuk kelompok muslim ini.
• Wali Mukminun mukminat (orang-orang mukmin), yaitu orang-orang yang mendapatkan anugrah keimanan, baik dalam perkataan, perbuatan maupun keyakinan.
• Wali Qonitun wa Qonitat, yaitu orang-orang yang taat kepada Allah. mereka mendapatkan anugrah dari Allah berupa kepatuhan untuk menjalani semua perintah dan menjauhi semua larangan. Mereka menaati Allah karena merasa sebagai hamba Allah dan bukan karena berharap akan pahala atau ganjaran.
• Wali Shodiqun wa Shodiqot, yaitu orang-orang yang benar-benar jujur. Allah menganugerahi mereka kejujuran baik dalam perkataan maupun perbuatan (perilaku) mereka.
• Wali Shobirun wa Shobirat, yaitu orang-orang yang mendapatkan anugrah kesabaran. Mereka adalah orang yang selalu memenjarakan dirinya sendiri kepada Allah, untuk selalu taat pada Allah tanpa batas waktu.
• Wali Khosyi’un wal Khosyi’at, yaitu mereka yang mendapatkan anugrah kekhusukan dalam beribadah kepada Allah dan kekuasaan Allah selalu tampak dalam hati mereka.
• Wali Mutasodiqun wal Mutashodiqod, yaitu orang-orang yang suka bersedekah. Mereka mendapatkan anugrah dari Allah berupa sifat kedermawanan untuk selalu mendermakan karunia Allah kepada semua makhluk yang membutuhkan.
• Wali Shoimiun wa Shoimat, yaitu mereka yang selalu berpuasa. Allah menganugerahi mereka kemampuan untuk menahan diri dari segala sesuatu yang membuat mereka mulia disisi Allah. Allah memerintahkan mereka untuk menahan diri dan anggota badan mereka.
• Wali Hafidzun wa Hafidzat, yaitu orang yang selalu menjaga aturan-aturan Allah. mereka mendapatkan anugrah penjagaan ilahiyah sehingga mereka senantiasa menjaga hal-hal yang mereka jaga. Ada dua tingkatan dalam kelompok ini, yaitu kelompok khusus adalah orang yang selalu menjaga kemaluan mereka dan yang awwam yaitu yang selalau memelihara aturan-aturan Allah.
• Wali Dzakirun wa Dzakirat, yaitu mereka yang mendapatkan anugrah ilham untuk selalu berdzikir, selalu ingat pada Allah sehingga Allah mengingat mereka.
• Wali Taibun wa Taibat, yaitu mereka yang mendapatkan anugrah kemampuan untuk bertaubat dalam segala keadaan (kondisi) atau dalam satu keadaan. Mereka selalu bertaubat kepada Allah dari kemungkinan untuk menentang Allah yang ada dalam dirinya.
• Wali Mutathohirun wal Mutathohirat, yaitu mereka yang mendapatkan anugrah kesucian dan selalu menyucikan diri baik lahir maupun bathin. Mereka adalah orang yang menyucikan diri dari segala sifat yang menghalanginya untuk masuk menuju Allah.
• Wali Hamidun wal Hamidat, yaitu orang yang mendapatkan anugrah untuk selalu memuji Allah dalam segala keadaan.
• Wali Syaikhun yaitu orang-orang yang mengadakan pengembaran spiritual dijalan Allah. Pengembaraannya dimuka bumi ini dilakukan untuk mengambil pelajaran (I’tibar) dari masa lalu dan bekas-bekasnya sehingga mencapai pengetahuan bahwa bumi itu juga tumbuh dan berkembang karena selalu berdzikir kepada Allah. Syaikhun ini adalah orang yang suka berbuat baik dan mengutamakan hak orang lain.
• Wali Rokiun wa Rokiat (orang yang selalu ruku`), yaitu mereka yang mendapatkan anugrah untuk selalu tunduk dan merendahkan diri kepada Allah.
• Wali Sajidun, yaitu mereka yang mendapatkan anugrah ketundukan hati, tidak sombong baik urusan dunia maupun akhirat.
• Wali Amirun bil almaruf, yaitu mereka yang mendapatkan anugrah kemampuan untuk selalu mengajak kepada kebaikan atau mengajak pada jalan Allah.
• Wali nahun an al munkar, yaitu mereka yang mendapatkan anugrah kemampuan untuk selalu mencegah dari yang munkar.
• Wali Hulama (orang yang penuh kasih sayang), yaitu mereka yang mendapatkan anugrah kemurahan hati, tidak tergesa-gesa menghukum meskipun ia bisa melakukan dan tanpa ada yang menghalanginya.
• Wali Awahun yaitu mereka yang mendapatkan anugrah mudah iba. Baik iba terhadap penderitaan maupun terhadap kesesatan orang lain sebagaimana Ibrahim As merasa iba melihat kaumnya yang menyembah berhala.
• Wali Tentara-tentara Allah yang mampu mengalahkan musuh Islam.
• Wali Mukhbitun (orang-orang yang terpilih), yaitu orang yang mendapatkan anugrah sebagai orang pilihan yang ilmunya tentang Allah melebihi orang lain, yang dicapai melalui jalan khusus yang hanya diketahui oleh orang-orang seperti mereka.
• Wali Awabun (orang yang selalu bertobat), yaitu orang yang mendapatkan anugrah untuk selalu kembali pada Allah dari segala arah tempat Iblis mendatangi manusia. Mereka mengembalikan semuanya pada Allah dari awal sampai akhir.
• Wali Munibun, orang yang selalu kembali pada Allah. Yaitu mereka yang mendapatkan anugrah untuk selalu mengembalikan segala sesuatu kepada Allah.
• Wali Mubshirun, yaitu mereka yang mendapatkan anugrah untuk selalu bisa melihat kesalahan diri mereka dengan mata hatinya.
• Wali Muhajirun wal muhajirat, yaitu mereka yang mendapatkan anugrah untuk selalu meninggalkan (hijrah) semua yang diperintahkan Allah dan Rasul untuk ditinggalkan.
• Wali Musfiqun yaitu orang yang mendapatkan anugrah untuk selalu berhati hati dalm setiap perbuatan dan perkataan karena takut pada Allah.
• Wali Wafi’ yaitu orang yang dianugerahi Allah untuk selalu menepati janji.
• Wali Wasilun rohim, yaitu orang yang mendapatkan anugrah untuk selalu menyambung silaturahim dengan semua manusia yang menjadi makhluk Allah, mudah memaafkan kejahatan orang lain. Mereka hanya menjauhi orang yang diperintahkan oleh Allah untuk dijauhi. Mereka membenci sifat dan perbuatan dan bukan membenci orangnya.
• Wali Khoifun, yaitu orang yang mendapat anugrah untuk selalu menghindari sesuatu karena perintah Allah.
• Wali Kurama, yaitu orang yang mendapatkan anugrah kemuliaan jiwa

Demikianlah sosok-sosok dan karakteristik perilaku para auliya, sebagai sosok-sosok yang dikasihi Allah swt sebagaimana disampaikan Syekh Yusuf An Nabhani dalam kitabnya.

Ditulis oleh: MN Ibad-disarikan dari berbagai sumber