Karomah menurut pengertian beberapa Ulama’ adalah adalah sesuatu hal yang luar biasa (diluar kebiasaan) yang tampak dalam kekuasaan seorang hamba yang jelas kebaikannya yang ditetapkan karena adanya ketekunan didalam mengikuti syari’at Nabi dan mempunyai i’tikad yang benar.

Menurut Imam Tajuddin As Subky dalam kitab Thobaqotil Kubro, karomah itu bermacam-macam, diantaranya adalah, Menghidupkan yang sudah mati, Dapat berbicara dengan orang mati, Membelah dan mengeringkan laut serta dapat berjalan diatas air, Merubah benda-benda, Melipat jarak bumi, Berbicara dengan benda mati dan binatang, Menyembuhkan berbagai macam penyakit, Menundukkan binatang, Melipat waktu, Membentangkan waktu, Terkabulnya do’a, Mengendalikan lisan ketika bicara dan fasih bicara, Memikat hati dalam majelis sehingga mempengaruhi akhir keputusan yang diambil, Memberitahukan dan menyingkap hal-hal gaib, Sabar atas ketiadaan makanan dan minuman dalam waktu yang cukup lama, Mengendalikan perubahan musim, Mampu memperoleh banyak makanan, Terjaga dari makan makanan haram, Melihat tempat yang jauh dari belakang hijab, Ditakuti, Allah mencegah kejahatan yang akan menimpa dan mengubahnya menjadi kebaikan, Menampakkan diri dalam bentuk yang berbeda, Kemudahan para ulama untuk menyusun karya dalam waktu yang relatif singkat, Menghilangkan pengaruh racun dan hal yang membahayakan.

Sedangkan Syeikh Muhyidin Ibnu Arabi, membagi karamah sesuai dengan dari mana sumber karamah itu muncul dari anggota tubuh yang dipergunakan untuk menjalankan taat kepada Allah Swt. Macam-macam karamah menurut Ibnu Arabi adalah;

Mata; Diantara karamahnya jika dilakukan untuk ketaatan dan menjauhi kemaksiatan adalah, Mampu melihat tamu dari jarak yang jauh sebelum tamu itu datang, Bisa melihat dari balik dinding tebal, Melihat Ka’bah ketika shalat, Dapat menyaksikan alam malakut spiritual, baik malaikat, jin dan penghuni ketinggian, Mampu melihat Nabi Khidir dan wali abdal.
Telinga; Diantara karamahnya jika dilakukan untuk ketaatan dan menjauhi kemaksiatan adalah, Mendengar kabar gembira bahwa pemiliknya adalah orang yang diberi hidayah dan akal oleh Allah, Dapat mendengarkan ucapan benda mati.
Lidah; Diantara karamahnya jika dilakukan untuk ketaatan dan menjauhi kemaksiatan adalah, dapat berbicara dan bercakap cakap dengan alam yang lebih tinggi, mampu mengatakan suatu keadaan sebelum terjadinya, memberitahukan hal-hal yang gaib, memberitahukan akan munculnya benda-benda.
Tangan; Diantara karamahnya jika dilakukan untuk ketaatan dan menjauhi kemaksiatan adalah, munculnya warna putih bersih tanpa noda ditangan ketika dimasukkan kedalam saku seperti yang terjadi pada Nabi Musa, Memancarkan air disela-sela jari seperti yang terjadi pada Nabi Muhamad Saw, melemparkan tanah kemuka musuh sehingga mereka kalah, mengepalkan tangan ke udara lalu ketika membukanya munculah emas, perak dll.
Perut; Diantara karamahnya jika dilakukan untuk ketaatan dan menjauhi kemaksiatan adalah, Terjaganya perut dari makan makanan dan minuman yang tidak halal dengan munculnya tanda yang disampaikan oleh Allah, Makanan yang sedikit bisa mengenyangkan orang banyak, Membuat satu macam makanan diatas piring menjadi berbagai jenis makanan sesuai dengan keinginan orang-orang yang hadir ditempat itu, Mampu mengubah air minum yang asin dan pahit menjadi manis.

Contoh-contoh karomah yang pernah terjadi yang berhasil penulis kumpulkan sebagaimana pembagian bermacam-macam karomah diatas diantaranya adalah;
Menghidupkan yang telah mati
Kisah Abu Ubeid Al Busri (wafat 245 H), pergi kemedan perang sambil menunggang seekor kuda. Tiba-tiba anak kuda itu tergelepar mati. Abu Ubeid berkata, “Ya Allah, berikan kepadaku anak kuda ini dengan cara pinjam, dan akan kubayarkan sesampai aku nanti di Busri”. Tiba-tiba anak kuda itu bangkit dan hidup kembali. Seusai perangh, Abu Ubeid kembali ke Busri. Dan sesampainya dirumah ia berkata pada anaknya, “Turunkan pelananya”. “Dia masih berkeringat”, jawab puteranya. “Turunkan itu anak kuda pinjaman”, perintah Abu Ubeid menjelaskan. Tatkala pelana diangkat, kuda itu langsung tergelepar mati.

Mifraj Al Dimamini ketika berkata pada ayam panggang agar terbang. Dan ayam itupun kemudian terbang kembali.
Syaikh Ahdali memanggil kucing yang telah mati dan kemudian kucing itupun datang kembali.

Abu Yusuf Ad Dahmani datang pada mayit dan berkata “Berdirilah!”, tiba-tiba mayit itupun berdiri dan hidup dalam waktu yang cukup lama sesudah itu.

Syeikh Zaenudin Al Faruqi, suatu saat ada seorang bocah terjatuh dari loteng dan meninggal, ia meminta pada Allah agar anak itu hidup kembali. Allahpun mengabulkannya.

Syaiban an Nakhai r.a. (tabi’in) berangkat bersama para Muhajirin untuk melakukan perang jihad. Tiba-tiba keledainya mati. Teman-temannya membujuknya agar meneruskan perjalanan bersama mereka dengan menumpang keledai mereka. Tetapi ia menolak. Akhirnya ia ditinggalkan sendirian. Setelah berwudhu dan sholat ia berdo’a, “Ya Allah sesungguhnya aku berangkat dari Daitsanah untuk berjuang dijalan Mu dan mencari keridhaan Mu. Aku bersaksi bahwa engkau kuasa menghidupkan orang-orang yang sudah mati dan membangkitkan kembali orang yang ada dalam kubur. Ya Allah tolong hidupkan kembali keledaiku”. Setelah berdoa ia menghampiri keledainya. Sekali pukul, keledai itu langsung bisa berdiri dan mengibas-ngibaskan telinganya. Setelah memasang pelana dan kendali ia mengendarainya dan terus memacunya menyusul teman-temannya.

Syeikh Muhamad Baha’udin an Naqsyabandi pernah menghidupkan temannya Muhamad Zahid yang telah seharian meninggal dunia. Beliau juga memanggil salah satu keluarga santrinya yang telah mati yang berada di Bukhara. Tiba tiba Syamsudin, orang yang telah meninggal itu hadir dihadapan syeikh menemui saudaranya.

Robi’ah al Adawiyah ketika sepulang haji ditengah perjalanan untanya mati, Robi’ah kemudian meminta kepada Allah agar dihidupkan kembali. Unta itupun hidup kembali dan mengantarkan Robi’ah sampai kerumahnya.

Berbicara dengan orang mati atau benda mati.
Karamah ini lebih banyak terjadi dibandingkan dengan karamah diatas. Diantaranya adalah kisah kisah tentang Abu Sa’id al Kharazi, Syeikh Abdul Qodir al Jilani dll.

Mustajabnya doa atau permintaan.
Haiwat bin Syuraih bin Shafwan al Hadrami adalah orang yang suka berdo’a sambil menangis. Kehidupannya sangat memprihatinkan. Suatu saat Khalid bin al Fazar berada didekatnya saat ia sendirian sedang berdo’a dengan khuysu’. Khalid berkata, “Semoga Allah merahmatimu. Sebaiknya kau berdo’a kepada Allah, mudah-mudahan Allah berkenan melapangkan kehidupanmu”. Haiwat menoleh kanan-kiri, setelah yakin tidak ada orang lain ia mengambil sebutir pasir dan berdo’a, “Ya Allah, jadikanlah kerikil ini emas”. Tiba-tiba kerikil itu menjadi emas yang sangat indah. Haiwat lalu melemparkan kerikil itu sambil berkata, “Dunia itu tidak sebaik akhirat. Allah lebih tahu apa yang baik untuk hamba-Nya”. Khalid kemudian bertanya, “Lalu aku apakan emas ini?”. Haiwat menjawab, “Dermakan saja, sayang sekali kalau aku harus merubahnya kembali menjadi kerikil”.

Rabiah al Adawiyah pernah memiliki tanaman yang terserang belalang. Beliau berkata, “Ya Tuhanku, dengan perantaraan ini Kau menanggung rizkiku, akan tetapi terserahlah, apakah Tuan akan memberi makanan kepada musuh-musuh Tuan atau kepada kekasih-kekasih Tuan”. Kemudian belalang itu pergi menghilang semua.

Suatu hari ada orang Persia sedang naik kuda dekat tumpukan batu di Madinah. Diatas punggungnya orang itu mencaci maki Ali bin Abi Thalib. Sementara orang-orang hanya bisa berdiri saja disekelilingnya. Tiba-tiba datang sa’ad bin Abi Waqash dalam kerumunan itu. Dengan marah Sa’ad berkata, “Hai kenapa kamu mencaci maki Ali bin Abu Tahlib?. Bukankah ia orang pertama masuk Islam?. Buakankah ia orang pertama yang sholat bersama Rasulullah? Bukankah ia orang yang paling zuhud? Bukankah ia orang yang paling berilmu?. Bukankah ia menantu Rasulullah?. Bukankah ia yang membawa bendera Islam dalam pertempuran bersama Rasulullah?”. Lalu Sa’ad menghadap Kiblat, mengangkat tangannya dan berdo’a, “Ya Allah orang ini telah mencaci maki salah seorang kekasih-Mu. Tolong jangan bubarkan orang-orang ini sebelum Engkau tunjukkan kekuasaan-Mu pada mereka”. Sebelum kerumunan itu bubar, tiba-tiba kuda yang ditunggangi orang itu melemparkan tubuhnya mengenai tumpukan batu sehingga otaknya keluar dan mati seketika.

Menjaga diri dari makanan haram.
Syeikh Abul Abas al Mursiy r.a. pernah raja ya’qub memerintahkan agar menyembelih ayam jantan satu dan satunya lagi hanya dicekik. Keduanya kemudian dimasak bersama untuk disuguhkan pada Syeikh. Setelah syeikh melihat makanan itu, syeikh kemudian mengambil ayam yang dicekik dan melemparnya, “Ini bangkai, seandainya yang ini tidak terkena kuahnya najis, aku masih mau memakan”. Pernah ada orang mencoba memberi makan yang ada subhatnya pada Syekh Abul Abbas al Mursiy r.a. syeikh menolaknya dan berkata, “Syeikh Harits al Muhasibiy, jika mengulurkan tangannya mau makan makanan yang subhat maka urat jarinya bergerak pertanda makanan haram. Kalau tanganku justru 60 urat bergerak semua”.

Harits Al Muhasibi bila ada makanan yang haram, bau tidak enak yang diterima oleh hidungnya dan kemudian tidak memakannya. Konon, bergerak-gerak otot jari-jarinya.

Mengendalikan perubahan musim.
Bilal bin Sa’ad bin Tamim al Asy’ari pernah berseru pada kaumnya yang sedang keluar rumah untuk menjalankan sholat istisqo’. Bilal berseru pada kaumnya, “Wahai manusia bukankah kalian mengaku berbuat kesalahan?”. Mereka menjawa serentak, “Ya”. Lalu Bilal berdo’a, “Ya Allah, sesungguhnya engkau telah berfirman, “Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik”. Karena mereka semua telah mengaku berbuat salah kepada Mu, tolong ampunilah kami dan turunkan hujan pada kami”. Beberapa saat kemudian hujanpun turun dengan derasnya.

Dimasa pemerintahan Umar ibn Khathab, Makkah dan Madinah pernah mengalami kekeringan yang luar biasa. Akhirnya Sayidina Abbas dengan khusyu’ berdo’a agar diturunkan hujan. Hujanpun turun dengan derasnya menyuburkan tanah Makkah dan Madinah.

Seorang penyewa kebun milik Anas bin Malik r.a. datang pada Anas dan mengeluh tentang kekeringan dimusim kemarau. Setelah berwudhu lalu shalat, Anas bertanya, “Kamu melihat sesuatu?”. Penyewa itu menjawab, “Aku tidak melihat apa-apa?”. Kemudian Anas masuk lagi dan shalat lagi. Kejadian itu berulang tiga kali. Yang terakhir orang itu menjawab, “Ya aku melihat awan yang bentuknya seperti sayap burung”. Anas kembali melakukan shalat dan terus berdo’a sampai orang itu menghampirinya dan berkata, “Langit rata oleh awan dan menurunkan hujan”. Anas berkata, “Naikilah kuda yang biasa dipakai Bisyru bin Syigaf, dan lihat sampai dimana hujan turun”. Orang itu kemudian naik kuda. Setelah dilihat ternyata hujan tersebut hanya turun diladang orang-orang yang baik hati, bukan diladang orang-orang yang suka marah.

Sa’dun al Majnun (wafat setelah 250 H), saat itu di Basrah sedang kemarau panjang. Orang-orang keluar untuk menjalankan sholat istisqo. Saat itu Sa’dun sedang berdzikir dimakam sambil memukul-mukul lututnya. Ata’ ibn Sulaiman kemudian mendekatinya dan mengucapkan salam. “Ata’, siapa yang membuka kedok darimu? Ada apa gerangan dengan kumpulan orang-orang itu? Apakah terompet kiamat telah ditiup? Ataukah orang-orang dalam kubur telah dibangkitkan?”, tanya Sa’dun. “Tidak, mereka datang untuk melaksanakan sholat istisqo”, jawab Ata’. “Lalau kamu bergabung dengan mereka, dengan hati samawi atau hati turabi?”, tanya Sa’dun. “Berdoalah kepada allah bersama kami”, jawab Ata’. “Kamu ingin aku meminta hujan?”, tanya Sa’dun. Sa’dun kemudian berdo’a, “Tuhanku, demi rahasiaku, engkau akan dijauhi kecuali Engkau hujani mereka”. Seketika itu kemudian hujan turun dengan derasnya. Sa’dun berkata, “Ata’, jika Dia belum memuaskanmu, maka jangan pulang dulu”.
Syeikh Abu Abbas As Sayatiri menjual hujan dengan ganti beberapa dirham.

Penglihatan yang diberikan oleh Allah terhadap seluruh isi bumi (yang terkandung didalamnya.
Abu Turab ketika menghentakkan kakinya kebumi tiba-tiba mata air mengalir. Imam As Subki berkata “Dan didalam karomah ini seperti orang yang mendatangkan penciptaan Allah pada air yang bukan pada tempatnya, dan ketaatan bumi pada orang yang memukulnya”. Contoh sebagian orang sufi juga bercerita bahwa ia kehausan diperjalanan melakukan haji dan sama sekali tidak menemukan air, kemudian ia menemukan seorang fakir yang menyandarkan tongkatnya disuatu tempat, dan air memancar dari bawah tongkat itu. Kemudian ia memenuhi kantong airnya dengan air itu dan memberitahukan pada rombongan haji yang lain. Dan merekapun datang dan memenuhi kantong airnya.

Berbicara dengan tumbuhan dan hewan.
Syeikh Ibrahim Ibn Adham diundang oleh pohon delima untuk memakan salah satu buahnya. Ia kemudian memakannya dan pohon delima yang pendek itu kemudian memanjang, yang semula masih asam kemudian memaniskan buahnya dan berbuah setahun dua kali.
Syeikh Umar ibn Faridh, dalam pengembaraannya yang panjang telah sangat akrab dengan berbagai binatang. Beliau berteman dengan harimau besar dan terbiasa bercakap-cakap dengannya. Suatu kali pernah harimau itu meminta beliau naik kepunggungnya untuk mengantarkannya ke Makkah, tetapi beliau menolaknya.

Syeikh Ibnu Arabi dalam perjalanannya pernah bertemu dengan seekor ular. Beliau menyapanya dengan mengucapkan salam, ular itu menjawab salamnya dan berkata, “Dari mana kau?. “Dari Najayah”, jawab beliau. Ular itu kembali bertanya lagi, “Bagaimana anggapan orang terhadap Abu Madyan?”. “Mereka mengatakan bahwa ia kafir zindik”. Ular itu berkata, “demi Allah, sungguh mengherankan manusia itu, aku tidak menyangkanya. Demi Allah, Allah menjadikan dia sebagai wali-Nya”. “Yang memberitahu kamu siapa?”, tanya Ibnu Arabi. Ular itu menjawab, “Maha suci Allah, sesungguhnya semua hewan yang melata dimuka bumi ini tahu semua bahwa Allah menjadikan Abu Madyan sebagai wali-Nya dan telah menjadikan rasa senang semua makhluk kepada beliau. maka tidak ada orang yang benci beliau kecuali orang kafir atau munafik”.

Menyembuhkan penyakit.
Abu Said al Khudri r.a. suatu kali ketika diutus Rasulullah Saw dalam perang, karena kelaparan mereka mampir pada sebuah kaum yang pemimpinnya terkena sengatan hewan beracun. Tetapi kaum tersebut tidak ada yang mau memberi mereka makanan. Beliau kemudian menyanggupi untuk menyembuhkan asal diberi beberapa ekor kambing. Beliau kemudian membacakan Al Fatihah pada pemimpin kaum tersebut dan sembuh. Akhirnya beliau mengambil kambing-kambing itu dan menyembelihnya untuk jamuan pasukan muslim.
Imam Syari dari Syiria. Dalam cerita ada lelaki yang bertemu dengannya disalah satu perbukitan, sedang menyembuhkan orang lumpuh buta dan sakit.

Syeikh Abdul Qodir Al Jailani juga berkata pada anak kecil yang lumpuh, buta dan kena penyakit lepra. “Berdirilah dengan izin Allah”. Anak itu kemudian berdiri tanpa bekas penyakit apapun.

Lanjut ke- (2)

Ditulis oleh; MN Ibad; disarikan dari beberapa referensi